Ilustrasi kebakaran Kejagung. ANT/Aditya Pradana Putra
Ilustrasi kebakaran Kejagung. ANT/Aditya Pradana Putra

Penyidikan Kebakaran Kejagung Diminta Berdasarkan Scientific Crime Investigation

Nasional kebakaran gedung kejaksaan agung
Zaenal Arifin • 25 Oktober 2020 15:29
Jakarta: Sejumlah pihak meragukan kebakaran gedung Kejaksaan Agung akibat kelalaian. Komisioner Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) Poengky Indarti berharap penyidik Bareskrim Mabes Polri melakukan penyidikan berbasis ilmiah (scientific crime investigation).
 
"Sehingga hasilnya akurat dan dapat dipertanggungjawabkan di persidangan," ucap Poengky di Jakarta, Minggu, 25 Oktober 2020.
 
Dia menuturkan SCI penting untuk menepis tuduhan kebakaran gedung Kejagung akibat disengaja untuk menutupi kasus-kasus besar yang sedang ditangani. Poengky juga berharap penyidikan dilakukan secara profesional dan mandiri.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Sehingga dapat menepis kecurigaan publik," tegas dia.
 
(Baca: Polisi Diwanti-Wanti Tak Berkompromi di Kasus Kebakaran Kejagung)
 
Sebanyak 8 tersangka bertanggung jawab dalam kebakaran Gedung Utama Kejagung. Mereka ialah Direktur Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Kejagung, NH; Direktur PT ARM, R; lima tukang, T, H, S, K, IS; dan mandor, UAN.
 
Polisi menyimpulkan kebakaran gedung Kejagung karena faktor kelalaian lima tukang yang merokok di tempat bekerja, yakni lantai 6 Ruang Biro Kepegawaian Kejagung. Lokasi itu merupakan titik awal api.
 
Api menjalar dengan cepat karena minyak pembersih yang tersimpan di lantai tersebut mengandung bahan mudah terbakar. Minyak itu disediakan NH yang dipasok dari R.
 
Seluruh tersangka dijerat Pasal 188 KUHP tentang kelalain yang menyebabkan kebakaran juncto Pasal 55 dan Pasal 56 KUHP. Mereka terancam hukuman maksimal lima tahun penjara.
 
(REN)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif