Produsen Vape Narkoba Dikendalikan Napi di Cipinang

Siti Yona Hukmana 08 November 2018 19:24 WIB
narkoba
Produsen Vape Narkoba Dikendalikan Napi di Cipinang
Pelaku pembuat vape mengandung narkoba - Medcom.id/Siti Yona Hukmana.
Jakarta: Subdit I Direktorat Reserse Narkoba (Ditresnarkoba) Polda Metro Jaya menangkap dalang peredaran narkoba jenis liquid vape yang mengandung metilendioksi metamfetamina (MDMA). Pelaku merupakan napi Lapas Cipinang berinisial TY.  

"TY merupakan Napi di Rutan Cipinang dengan perkara narkoba sejak 2016," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono dalam konfrensi pers di Jalan Janur, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Kamis, 8 November 2018.

Argo mengungkapkan kasus ini terbongkar setelah polisi menangkap sejumlah karyawan TY. Yakni BUS selaku pengirim paket; VIK, AR, AD selaku pekerja. Mereka ditangkap di Pasar Minggu, Jakarta Selatan pada 15 Oktober 2018. 


Kemudian polisi menangkap lagi enam orang di Hotel Kaisar, Jakarta Selatan pada 16 Oktober 2018. Mereka yakni BR, DIK, DIL, KIM, SEP, DAN. 

Dalam penyidikan diketahui keenamnya diperintahkan untuk melarikan diri oleh TY dengan membawa semua hasil produksi dan peralatan ekstaksi laboratorium. "Saat ditangkap diamankan satu unit mobil Avanza nomor polisi B 1400 EOT," tutur Argo.

Argo menambahkan, TY juga memerintahkan karyawannya untuk meninggalkan lokasi produksi. Produksi dilakukan di sebuah rumah mewah di Jalan Janur Elok VII Blok QH5 Nomor 12, Kelapa Gading, Jakarta Utara. Rumah itu disewa Rp140 juta dalam satu tahun.

Kepolisian selanjutnya melakukan penyelidikan untuk menemukan dalang produsen narkoba. Pada penyelidikan ditemukan identitas sopir TY, CT.  

Dia ditangkap di Cawang, Jakarta Timur, Selasa, 23 Oktober 2018. Pada saat yang sama, polisi menangkap istri TY, DW di Jalan Cipinang Kebembem, Jakarta Timur. 

"DW menyebutkan bahwa TY merupakan napi di Rutan Cipinang," imbuh Argo. 


Konpers soal produksi vape narkoba - Medcom.id/Siti Yona Hukmana. 

Selanjutnya, polisi langsung berkoordinasi dengan petugas Rutan Cipinang dan menangkap  TY. Pada penangkapan itu, polisi turut menangkap tahanan lain yang bekerja sama dengan TY, yakni VIN dan HAM. 

Argo menyebut dalam proses penyidikan TY mengaku sebagai inisiator pembuatan clandestai lab dan membangun lab untuk memproduksi segala produk yang mengandung narkotika (THC, MDMA, 5-Fluoro ADB). TY mengaku dibantu LT (DPO) dan pemasarannya diserahkan kepada BR. 

Sedangkan VIN bertugas mencari bahan narkotika liquid illusion dengan cara memperoleh 100 butir ekstasi dari COK. COK ditangkap pada 2 November 2018 di Rutan Cipinang. Tahanan ini mengaku mendapatkan 100 butir ekstasi dari GUN (DPO). 

Dari hasil penyidikan juga diketahui uang hasil penjualan selalu dikirim ke istrinya, DW. Selanjutnya uang dipakai oleh DW untuk membeli bahan baku pembuatan tembakau gorila, yaitu 5-Fluoro ADB. 

Bahan itu dibeli dari HM Gajah (belalai gajah) dengan pembayaran melalui Bitcoin sebanyak enam kali. Adapun rincian pembayarannya:

Pada awal Februari 2018 sebesar Rp400 juta, akhir Februari Rp200 juta, awal Maret 2018 Rp100 juta. Kemudian, pertengahan Maret Rp100 juta, awal April 2018 Rp100 juta dan awal Juni Rp150 juta.

"Dari uang itu, DW juga diperintahkan untuk melakukan pembayaran keperluan laboratorium termasuk gaji para karyawan dengan cara ditransfer kepada LT (DPO)," ungkap Argo.

Terkait kasus ini polisi menetapkan 18 orang sebagai tersangka. CT sopir TY masih berstatus saksi.

Akibat perbuatannya para tersangka dijerat Pasal 114 ayat (2) subsider Pasal 112 ayat (2) juncto pasal 132 ayat (1) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika. Dengan ancaman hukuman pidana mati, pidana penjara seumur hidup, atau pidana penjara paling singkat enam tahun dan paling lama 20 tahun. 





(REN)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id