Ilustrasi KPK - MI.
Ilustrasi KPK - MI.

Petinggi Waskita Karya Diperiksa terkait Proyek Fiktif

Nasional kasus korupsi
Juven Martua Sitompul • 20 Juni 2019 10:33
Jakarta: Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memanggil Manager Pengelolaan Peralatan PT Waskita Beton Precast, Imam Bukori. Dia akan diperiksa terkait kasus dugaan korupsi 14 proyek fiktif yang digarap PT Waskita Karya.
 
"Dia akan diperiksa sebagai saksi untuk tersangka FR (Kepala Divisi II PT Waskita Karya, Fathor Rachman)," kata juru bicara KPK Febri Diansyah saat dikonfirmasi, Jakarta, Kamis, 20 Juni 2019.
 
Febri tak menjelaskan hal yang bakal digali penyidik dari petinggi Waskita Karya tersebut. Saksi diperiksa karena diduga mengetahui banyak ihwal korupsi di perusahaan pelat merah tersebut.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Pada proses pengusutan kasus ini, tim penyidik telah menggeledah tiga lokasi selama dua hari berturut-turut. Satu rumah Direktur Utama (Dirut) PT Jasa Marga, Desi Arryani di kawasan Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Desi diketahui pernah menjabat sebagai Direktur Operasi I PT Waskita Karya.
 
Sedangkan dua lokasi lain yang ikut digeledah ialah kediaman dua pensiunan PNS Kementerian PUPR di kawasan Makasar, Jakarta Timur. Sejumlah dokumen yang diduga berkaitan dengan 14 proyek fiktif PT Waskita Karya disita penyidik dari tiga lokasi tersebut.
 
(Baca juga:KPK Bakal Periksa Dirut Jasa Marga)
 
Dalam kasus ini, Fathor dan mantan Kabag Keuangan dan Risiko Divisi II PT Waskita Karya Yuly Ariandi Siregar diduga menunjuk sejumlah perusahaan subkontraktor untuk melakukan pekerjaan fiktif pada 14 proyek yang dikerjakan oleh PT Waskita Karya. Proyek-proyek tersebut tersebar di Sumatera Utara, Banten, Jakarta, Jawa Barat, Bali, Kalimantan Timur, hingga Papua.
 
Proyek-proyek tersebut sebenarnya telah dikerjakan oleh perusahaan lainnya, namun tetap dibuat seolah-olah akan dikerjakan oleh empat perusahaan yang telah teridentifikasi. Diduga empat perusahaan tersebut tidak melakukan pekerjaan sebagaimana yang tertuang dalam kontrak.
 
Atas subkontrak pekerjaan fiktif ini, PT Waskita Karya selanjutnya melakukan pembayaran kepada perusahaan subkontraktor tersebut. Setelah menerima pembayaran, perusahaan-perusahaan subkontraktor itu mengembalikan uang tersebut kepada sejumlah pihak, termasuk yang diduga digunakan untuk kepentingan pribadi Fathor dan Ariandi.
 
Atas tindak pidana ini, negara menderita kerugian hingga Rp186 miliar. Perhitungan tersebut merupakan jumlah pembayaran dari PT Waskita Karya kepada perusahaan-perusahaan subkontraktor pekerjaan fiktif tersebut.

 

(REN)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif