Ilustrasi. Foto: Medcom.id
Ilustrasi. Foto: Medcom.id

Warga Diminta Tak Takut Lapor Aksi Premanisme

Nasional penyekapan
Fachri Audhia Hafiez • 29 Oktober 2019 17:28
Jakarta: Kapolres Metro Jakarta Barat Kombes Hengki Haryadi meminta masyarakat tak takut melaporkan aksi premanisme. Imbauan ini buntut aksi penyekapan Direktur Utama PT Maxima Interindah Hotel, Engkos Kosasih, oleh debt collector.
 
“Saya imbau kepada masyarakat untuk berani melaporkan, karena pada dasarnya Polisi tidak bisa bekerja sendiri,” kata Hengki di Jakarta, Selasa, 29 Oktober 2019.
 
Hengki mengatakan aksi premanisme tumbuh lantaran masyarakat enggan melapor. Ia menegaskan masyarakat tak perlu takut melaporkan terlebih sudah menjadi korban atau melihat langsung peristiwa.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dia mengingatkan aksi premanisme dilakukan dengan berbagai modus. Seperti, yang menimpa Engkos Kosasih.
 
"Belum lama juga terungkap atas kasus preman yang berkedok debt collector dengan mengintimidasi maupun menyekap korbannya yang dialami oleh Direktur Utama Engkos Kosasih," ujar Hengki.
 
Ia berharap tak ada lagi pihak-pihak yang melakukan aksi premanisme hingga menimbulkan rasa ketakutan dan keresahan di masyarakat. Hengki tak segan menindak tegas pelaku.
 
"Kalau ada yang masih coba-coba, akan berhadapan dengan kami. Jika melawan kami tidak segan memberikan tindakan yang tegas dan akan kami sikat. Karena komitmen kami Jakarta Barat zero premanisme," ujar Hengki.
 
Delapan orang tersangka AB, AR, JR, MR, HN, FR, FL, dan FD ditangkap Polres Metro Jakarta Barat karena diduga menyekap Engkos Kosasih. Beberapa tersangka lain masih buron, yakni AN, MS, ON, dan JM.
 
Dari hasil penyelidikan polisi, bos debt collector sekaligus Dirut PT Hai Sua Jaya Sentosa, AB, memaksa korban Engkos Kosasih menandatangani perjanjian bunga utang. Engkos diintimidasi karena pembayaran utang melewati waktu jatuh tempo.
 
AB memaksa Engkos Kosasih menyetujui perjanjian hitam di atas putih atas kenaikan biaya utang dari Rp100 juta menjadi Rp250 juta. Biaya itu meroket atas keterlambatan pembayaran selama 5 hari.
 
Para debt collector juga mengancam karyawan Hotel Grand Akoya Taman Sari, Jakarta Barat, tempat penyekapan korban. Pegawai hotel menjadi korban kekerasan.

 

(REN)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif