Novanto Benarkan Jual Rumah untuk Ganti Kerugian Negara

Damar Iradat 14 September 2018 11:20 WIB
korupsi e-ktp
Novanto Benarkan Jual Rumah untuk Ganti Kerugian Negara
Terpidana kasus korupsi Kartu Tanda Penduduk elektronik (KTP-el) Setya Novanto - Medcom.id/Sunnaholomi Halakrispen.
Jakarta: Terpidana kasus korupsi proyek pengadaan Kartu Tanda Penduduk berbasis elektronik (KTP-el) Setya Novanto membenarkan bakal menjual rumah miliknya. Hal itu dilakukan untuk mengembalikan kerugian negara atas perbuatannya. 

"Benar (akan jual rumah)," kata Novanto di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Jumat, 14 September 2018. 

Kendati demikian, Novanto enggan membeberkan lokasi rumah yang akan ia jual. Sebab, dalam Laporan Harta dan Kekayaan Pejabat Negara (LHKPN), Novanto memiliki 16 aset berupa bangunan dan tanah. 


Yang pasti, mantan Ketua Umum Partai Golkar itu mengaku akan berusaha semaksimal mungkin membantu KPK mengembalikan kerugian negara. 

"Pokoknya kita berusaha maksimal mungkin bisa bantu KPK," kata dia. 

Juru Bicara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Febri Diansyah menyebut ada kemungkinan KPK bakal merampas aset Novanto. Pihaknya juga sudah melakukan pemetaan aset-aset mantan orang nomor 1 di DPR itu.

"Pemetaan aset sudah kami lakukan, tentu saja akan lebih baik kalau uang penggantinya dalam bentuk aset tidak perlu proses lelang lebih lanjut. Tapi kalau memang dibutuhkan proses perampasan hingga lelang tentu akan dilakukan, yang penting sudah dilakukan identifikasi aset," ujar Febri di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta Selatan, Kamis, 13 September 2018. 

(Baca juga: KPK Setorkan Uang Rampasan Kasus KTP-el ke Kas Negara)

Febri memaparkan timnya telah melakukan identifikasi terhadap seluruh aset milik Novanto. Namun, saat ini KPK belum merampas aset tersebut lantaran menilai adanya niat Novanto untuk membayar uang pengganti dengan cara dicicil.

Perampasan aset milik terpidana korupsi KTP-el itu dilakukan untuk memenuhi kewajiban uang pengganti sebagai pembayaran kerugian negara. Terkait pembayaran uang pengganti tersebut Novanto telah membayar Rp1,1 miliar ke KPK melalui pemindahbukuan dari rekening Mandiri milik Novanto.

Sebelumnya, Novanto menyatakan bakal melunasi uang pengganti USD7,3 juta dikurangi Rp5 miliar yang sudah lebih dulu dititipkan ke penyidik KPK. Sisanya dibayar bertahap dan Novanto mulai mencicil uang pengganti USD100 ribu pada Mei 2018. 

Pengadilan Tipikor Jakarta menjatuhkan vonis 15 tahun penjara kepada Setya Novanto. Selain hukuman pidana penjara, Novanto juga didenda Rp500 juta subsider tiga bulan kurungan.

Novanto juga dituntut majelis hakim membayar uang pengganti USD7,3 juta dikurangi uang yang telah dikembalikan Rp5 miliar subsider dua tahun kurungan. Majelis hakim menjatuhkan pidana tambahan berupa pencabutan hak politik Novanto selama lima tahun.

(Baca juga: KPK Ingin Aset Novanto untuk Ganti Kerugian KTP-el)
 



(REN)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id