Juru bicara KPK Febri Diansyah. Foto: MI/Rommy Pujianto.
Juru bicara KPK Febri Diansyah. Foto: MI/Rommy Pujianto.

KPK Telusuri Aliran Dana Mafia Migas

Nasional korupsi
Kautsar Widya Prabowo • 07 November 2019 23:04
Jakarta: Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tengah menelusuri aliran dana kasus suap mafia migas yang menjerat Managing Director Pertamina Energy Service Pte. Ltd. (PES), Bambang Irianto. Penelusuran dilakukan dengan menggali keterangan Direktur Utama PT Anugrah Pabuaran Regency (APR) Lukman Neska, yang rampung diperiksa oleh penyidik KPK hari ini.
 
"KPK mendalami informasi terkait dengan aliran dana dari rekening perusahaan milik BTO (Bambang Irianto) di Singapura ke rekening saksi," ujar juru bicara KPK Febri Diansyah di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta Selatan, Kamis, 7 November 2019.
 
Sebelumnya, Lembaga Rasuah sempat menyebut kasus mafia migas dapat berpotensi mangkrak. "Undang-undang baru itu mengatur perkara yang lebih dari dua tahun dapat dihentikan. Jadi, ini menjadi concern KPK, untuk perkara yang kompleks, sangat kecil kemungkinan bisa ditangani dalam dua tahun," ujar Febri di kantor KPK, Selasa malam, 5 November 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dia bilang, kasus mafia migas ini memiliki kerumitan tersendiri. Banyak bukti-bukti berupa dokumen yang sifatnya lintas negara dan perlu dipelajari lebih intens.
 
"Kerumitan kasus ini juga tak kalah rumit dengan kasus Garuda (suap dan TPPU) yang kemarin sudah tangani dan dalam waktu dekat bisa kami selesaikan," kata Febri
 
Tersangka Bambang Irianto, baru diperiksa perdana hari ini. Bambang diduga menerima suap USD2,9 juta dari pihak Kernel Oil.
 
Suap diberikan karena Bambang membantu kegiatan perdagangan produk kilang dan minyak mentah kepada PES/PT Pertamina (Persero) di Singapura dan pengiriman kargo. Penerimaan uang haram disamarkan lewat rekening perusahaan cangkang.
 
Perusahaan bernama Siam Group Holding Ltd itu memiliki kedudukan hukum di British Virgin Island dan menerima uang dalam periode 2010-2013. Permasalahan dimulai pada 2008, ketika Bambang masih bekerja di kantor pusat PT Pertamina (Persero).
 
Bambang bertemu perwakilan Kernel Oil Ltd, yang merupakan salah satu rekanan PES/PT Pertamina. Ia lantas melaksanakan pengadaan serta penjualan minyak mentah dan produk kilang untuk kebutuhan PT Pertamina. Pada periode 2009 hingga 2012, Bambang mengundang perwakilan Kernel Oil dan akhirnya menjadi rekanan PES untuk impor dan ekspor minyak mentah untuk Pertamina.
 
Bambang berperan mengamankan alokasi kargo Kernel Oil dalam tender penjualan minyak mentah. Bambang diduga menerima sejumlah uang melalui rekening bank di luar negeri sebagai imbalan.
 
Bambang disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau Pasal 12 huruf b subsidair Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
 

(HUS)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif