Juru bicara KPK Febri Diansyah. Foto: Medcom.id/Fachri Audhia Hafiez
Juru bicara KPK Febri Diansyah. Foto: Medcom.id/Fachri Audhia Hafiez

Kasus Suap Mafia Migas Terancam Mangkrak

Nasional korupsi
M Sholahadhin Azhar • 06 November 2019 07:00
Jakarta: Juru bicara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Febri Diansyah membahas kemungkinan mangkraknya kasus mafia migas. Sebab, dugaan rasuah yang menjerat Managing Director Pertamina Energy Service (PES) Pte. Ltd periode 2009-2013, Bambang Irianto hampir berusia dua tahun.
 
"UU baru itu mengatur perkara yang lebih dari dua tahun dapat dihentikan. Jadi, ini menjadi konsern KPK, untuk perkara yang kompleks, sangat kecil kemungkinan bisa ditangani dalam 2 tahun," ujar Febri di kantor KPK, Selasa malam, 5 November 2019.
 
Dia bilang, kasus mafia migas ini memiliki kerumitan tersendiri. Banyak bukti-bukti berupa dokumen yang sifatnya lintas negara dan perlu dipelajari lebih intens.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Kerumitan kasus ini juga tak kalah rumit dengan kasus Garuda (suap dan TPPU) yang kemarin sudah tangani dan dalam waktu dekat bisa kami selesaikan," kata Febri.
 
Dia menyebut beberapa kasus besar masih diusut hingga kini dengan kurun waktu lebih dari dua tahun. Selain kasus suap dan TPPU yang menjerat Emirsyah Satar, KPK juga butuh lima tahun mengorek pencucian uang Tubagus Chaery Wardhana alias Wawan.
 
Durasi panjang juga dibutuhkan KPK mengusut kasus korupsi proyek KTP-el. "Sehingga kalau dibatasi dua tahun dan harus berhenti, maka tidak ada perkara besar yang bisa diungkap dengan aturan hukum yang ada saat ini," ujar dia.
 
Tersangka Managing Director Pertamina Energy Service (PES) Pte Ltd periode 2009-2013, Bambang Irianto, baru diperiksa perdana hari ini. Bambang diduga menerima suap US$2,9 juta dari pihak Kernel Oil.
 
Suap diberikan karena Bambang membantu kegiatan perdagangan produk kilang dan minyak mentah kepada PES/PT Pertamina (Persero) di Singapura dan pengiriman kargo. Penerimaan uang haram disamarkan lewat rekening perusahaan cangkang.
 
Perusahaan bernama Siam Group Holding Ltd itu memiliki kedudukan hukum di British Virgin Island dan menerima uang dalam periode 2010 - 2013. Permasalahan dimulai pada 2008, ketika Bambang masih bekerja di kantor pusat PT Pertamina (Persero).
 
Bambang bertemu perwakilan Kernel Oil Ltd, yang merupakan salah satu rekanan PES/PT Pertamina. Ia lantas melaksanakan pengadaan serta penjualan minyak mentah dan produk kilang untuk kebutuhan PT. Pertamina. Pada periode 2009 hingga 2012, Bambang mengundang perwakilan Kernel Oil dan akhirnya menjadi rekanan PES untuk impor dan ekspor minyak mentah untuk Pertamina.
 
Bambang berperan mengamankan alokasi kargo Kernel Oil dalam tender penjualan minyak mentah. Bambang diduga menerima sejumlah uang melalui rekening bank di luar negeri sebagai imbalan.
 
Bambang disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau Pasal 12 huruf b subsidair Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi
 

(NUR)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif