Ilustrasi: Medcom.id
Ilustrasi: Medcom.id

Psikolog Forensik: Ibunda Rangga Terancam Depresi

Nasional pemerkosaan penganiayaan pembunuhan
Siti Yona Hukmana • 24 Oktober 2020 21:35
Jakarta: DN, 28, korban kekerasan seksual tengah menjalani pendampingan psikologis atas dua peristiwa yang dialaminya. Anaknya, Rangga, 9, dibunuh saat memperjuangkan kehormatan DN dari pelaku pemerkosaan.
 
"Dua kejadian buruk yang dialami pada waktu bersamaan sangat berpeluang memunculkan depresi," kata psikolog forensik Reza Indragiri Amriel dalam wawancara eksklusif Newsmaker Medcom.id, Sabtu, 24 Oktober 2020.
 
Menurut dia, depresi bisa terjadi jika suatu kondisi sudah kronis dan berkepanjangan. Depresi yang begitu dalam merasuk ke jiwa sulit untuk dipulihkan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Karena kejahatan atau pengalamannya luar biasa menyakitkan," ujar Konsultan Lentera Anak Foundation itu.
 
Baca: Pekik Terakhir Rangga Berjuang Cegah Ibunya Diperkosa
 
Untuk itu, dia meminta otoritas setempat menaruh perhatian yang besar terhadap ibunda bocah hero tersebut. Pasalnya, kata Reza, penanganan yang tepat bisa memulihkan guncangan kejiwaan yang dialami pascaperistiwa itu. Depresi sangat berbahaya baik bagi korban pemerkosaan maupun orang sekitar.
 
"Sebagian ilmuwan menyimpulkan bahwa depresi adalah pintu gerbang 'ideal' bagi bunuh diri," ungkap Reza.
 
Reza kurang setuju cara memulihkan kesedihan dengan membesarkan hati korban. Kata-kata "sudahlah", "lupakanlah", "tenang saja", dan "nanti akan hilang sendiri" harus dihindari. Cara itu tidak sesuai dengan kenyataan meski memuat empati yang tulus.
 
"Karena trauma mustahil dilupakan," kata Reza.
 
Reza menjelaskan program rehabilitasi terhadap trauma tidak ditujukan untuk membuat orang lupa atau merasa sembuh sempurna. Rehabilitasi sejatinya untuk menumbuhkembangkan keterampilan mengatasi dan adaptasi baru terhadap persoalan yang berat.
 
"Sehingga kalau dikiaskan muncul ungkapan memaafkan iya, berkompromi dengan kenyataan, menerima rasa sakit, menerima rasa kehilangan, tapi bukan berarti melupakan," tutur dia.
 
Memaafkan maksud Reza bukan terhadap pelaku kejahatan, melainkan pada diri korban sendiri. Kemudian, korban bisa menerima nasib atas kejadian yang menimpa dirinya dan anaknya, Rangga.
 
"Itu target kita, semoga bisa dilakukan oleh otoritas terkait terhadap ibu yang menjadi korban," kata Reza.
 
Pemerkosaan disertai kekerasan dan penganiayaan terhadap DN terjadi di Desa Alue Gaden Gampong, Kecamatan Birem Bayeun, Kabupaten Aceh Timur, Aceh, Sabtu, 10 Oktober 2020, pukul 02.00 WIB. Peristiwa itu menewaskan Rangga.
 
Rangga dibunuh saat berusaha mencegah ibunya diperkosa SB, 41. Teranyar, tersangka SB tewas di kamar sel diduga karena sakit sesak napas pada Sabtu dini hari, 17 Oktober 2020.
 
(OGI)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif