Seluruh Keterangan Saksi Ratna Sarumpaet Dikaji
Tersangka kasus penyeberan hoaks Ratna Sarumpaet (tengah) bersiap menjalani pemeriksaan kesehatan, termasuk psikologi, di Polda Metro Jaya. Foto: MI/Pius Erlangga.
Jakarta: Penyidik Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Metro Jaya telah memeriksa sejumlah saksi kasus cerita bohong penganiayaan seniman Ratna Sarumpaet. Semua keterangan saksi kini dievaluasi sebelum kasus diajukan ke penuntut umum.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono mengatakan evaluasi akan menentukan keterangan yang telah dikumpulkan cukup atau belum. Jika belum, pemeriksaan kembali akan dilakukan.

"Apabila nanti dalam evaluasi itu masih dibutuhkan keterangan-keterangan lain, saksi lain kita lakukan pemeriksaan kembali, entah itu tambahan maupun lanjutan," kata Argo di Mapolda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Rabu, 17 Oktober 2018.


Menurut dia, waktu penahanan terhadap Ratna juga akan ditambah jika keterangan masih belum cukup. "Ya kalau dirasa oleh penyidik belum selesai pasti diperpanjang (masa tahanan)," ungkap Argo.

Namun, keterangan dari tersangka Ratna disebut Argo sudah cukup. Eks juru kampanye nasional Prabowo Subianto-Sandiaga Uno di Pilpres 2019 itu pun diakuinya kooperatif dalam menjawab pertanyaan penyidik.

"Pertanyaan yang ditanya oleh penyidik dijawab sesuai yang ditanya," ujar dia.

Ratna ditahan sejak Jumat, 5 Oktober 2018 untuk 20 hari ke depan. Dia dapat keluar tahanan pada Rabu, 24 Oktober 2018. Dia ditangkap di Terminal 2 Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, pada Kamis malam, 4 Oktober 2018, sebelum terbang ke Chile.

Baca: Kebohongan Ratna Sarumpaet Dinilai Mengancam Indonesia

Ratna menjadi tersangka setelah menyebarkan informasi bohong dengan mengaku dianiaya sejumlah orang di Bandung, Jawa Barat pada Selasa, 21 September 2018. Namun, polisi menemukan pada tanggal itu, Ratna sedang dirawat usai operasi plastik di Jakarta. 

Atas kebohongannya, ia dikenakan Pasal 14 Undang-Undang (UU) Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana dan Pasal 28 juncto Pasal 45 UU Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE). Ia terancam hukuman 10 tahun penjara. 





(OGI)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id