Ilustrasi uang. MI Ramdani
Ilustrasi uang. MI Ramdani

Ratusan Rekening di RI Tampung Duit Kejahatan Siber Capai Rp1 T

Nasional terorisme teroris ppatk kejahatan cyber
Dhika Kusuma Winata • 02 Desember 2020 04:24
Jakarta: Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) mencatat 437 rekening di Indonesia diduga sebagai penampung atau perantara duit (money mules) hasil kejahatan siber. Sebanyak 242 rekening dilaporkan sebagai laporan transaksi keuangan mencurigakan (LTKM).
 
"Total dananya dari 140 negara yang masuk ke Indonesia itu yang diduga dari hasil penipuan mencapai lebih dari Rp1 triliun," ungkap Kepala PPATK Dian Ediana Rae dalam webinar Membedah Tindak Pidana Siber Sebagai Tindak Pidana Asal TPPU, Selasa, 1 Desember 2020.
 
PPATK mencatat lima negara dominan melakukan transfer money mules ke Indonesia. Amerika Serikat sebanyak 3.522 transaksi dengan total transfer Rp272 miliar dan Korea Selatan sebanyak 1.262 transaksi dengan total transfer Rp114 miliar.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Kemudian, Taiwan sebanyak 846 transaksi dengan total transfer Rp82 miliar dan Hong Kong sebanyak 693 transaksi dengan nilai transfer Rp78 miliar. Selanjutnya Jerman sebanyak 670 transaksi dengan total transfer Rp47 miliar.
 
Dian menyatakan kejahatan di dunia maya yang diduga terkait pencucian uang (TPPU) terus meningkat. PPATK menerima sekitar 200 laporan terkait kejahatan siber pada 2019. Modus kejahatan siber paling jamak yakni peretasan akses surat elektronik atau email.
 
"Business email compromise banyak sekali. Biasanya meretas email seseorang yang melakukan transaksi dan kemudian seharusnya dibayarkan ke rekening A tapi ke rekening B," ujar Dian.
 
Dian mengatakan kejahatan siber yang kerap bekaitan dengan pencucian uang menjadi ancaman besar. Sebab berpotensi terkait pidana lain.
 
Hal itu termasuk kasus terorisme yang kerap diduga mendapat pendanaan dari pencucian uang. Dia menyebut kasus terorisme lebih virtual baik dalam propaganda maupun penghimpunan dana.
 
"Kita bisa jadi terjebak, misalnya berniat menyumbang untuk kegiatan sosial ternyata yang menerima ke organisasi teroris," ucap dia.
 
(REN)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif