Ilustrasi: Medcom.id
Ilustrasi: Medcom.id

KontraS Tuntut Pangdam Jaya Minta Maaf Terkait Kekerasan Prajurit di Jakut

Nasional tni penganiayaan kekerasan
Kautsar Widya Prabowo • 16 November 2020 02:41
Jakarta: Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) meminta Panglima Kodam (Pangdam) Jaya Mayor Jenderal (Mayjen) Dudung Abdurachman menindak anak buahnya yang terlibat penganiayaan di Jakarta Utara (Jakut). Kasus kekerasan pada Februari 2020 itu menewaskan warga, Jusni, 24.
 
"Pangdam Jaya, komandan tertinggi dalam teritorial di Jakarta, harus meminta maaf atas peristiwa yang dialami oleh almarhum Jusni," ujar staf Divisi Hukum KontraS, Andi Muhammad Rezaldy, dalam konferensi pers, Minggu, 15 November 2020.
 
Menurut dia, pencegahan kekerasan harus segera dijalankan kesatuan TNI di bawah Kodam Jaya agar kejadian serupa tidak lagi terulang. Selain itu, persidangan militer diharapkan memberikan hukuman setimpal terhadap prajurit yang terlibat.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Baca: Prajurit TNI Diduga Hajar Jusni dengan Meja Hingga Motor
 
"Para terdakwa (harus dapat) hukuman seberat-seberatnya ditambah hukuman pemberhentian tidak hormat," tutur dia.
 
KontraS juga meminta Komisi Yudisial (KY) dapat mengawal jalannya persidangan. Pasalnya, terdapat sejumlah hal yang membuat proses persidangan berjalan tidak secara objektif.
 
Salah satunya, tempat kejadian perkara (TKP) penganiayaan hanya disebutkan satu, yaitu di Jalan Edam, Kelurahan Tanjung Priok, Jakut, tepatnya di depan Masjid Jamitul Islam. Sedianya terdapat beberapa TKP lainnya yang dapat memperberat hukuman terdakwa.
 
KontraS menemukan sejumlah anggota TNI menganiaya warga sipil di Jakarta Utara pada Februari 2020. Korban, Jusni, mengalami luka serius hingga akhirnya tewas.
 
"Saat hendak pulang (dari kafe) di depan pintu kafe, tiba-tiba tanpa alasan yang jelas sudah ada (terduga prajurit TNI) yang melakukan pemukulan memakai botol, berjumlah sekitar empat orang, dua anggota TNI dan dua sipil," ujar Andi.
 
Jusni melawan. Dia memukul balik hingga akhirnya keributan pecah. Salah satu anggota TNI menginformasikan keributan itu ke teman-temannya. Tidak berlangsung lama, muncul 10 anggota TNI yang ikut berkelahi.
 
Salah satu prajurit TNI berteriak akan mengeluarkan pistol. Ancaman tersebut membuat Jusni bersama dua temannya melarikan diri. Jusni yang kabur ke arah jalan raya akhirnya tertangkap dan dipukuli. Korban dibawa ke Jalan Enggano yang berlokasi di seberang kafe.
 
"Di Jalan Enggano (kembali) dilakukan penyiksaan," tutur Andi.

 
(OGI)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif