NEWSTICKER
Gedung Merah Putih KPK. Foto: MI/Rommy Pujianto
Gedung Merah Putih KPK. Foto: MI/Rommy Pujianto

Virus Korona Tak Setop Perburuan Nurhadi

Nasional Virus Korona
Candra Yuri Nuralam • 23 Maret 2020 13:34
Jakarta: Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tengah mencari buronan kasus dugaan suap penanganan perkara di Mahkamah Agung (MA) 2011 sampai 2016. Wabah virus korona (covid-19) tak menghentikan perburuan terhadap tersangka eks Sekretaris MA Nurhadi Abdurrachman.
 
"Informasi dari teman-teman di lapangan pengejaran (terhadap Nurhadi) masih terus dilakukan," kata pelaksana tugas juru bicara KPK Ali Fikri di Jakarta, Senin, 23 Maret 2020.
 
Menurut dia, lembaga antirasuah tidak mengendurkan pencarian para buronan. Jejak Nurhadi masih didalami sampai saat ini.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Di sisi lain, Ali meminta Nurhadi kooperatif. Para tersangka diminta mengikuti proses hukum secara profesional di Gedung Merah Putih KPK.
 
"Khusus para DPO (daftar pencarian orang) Nurhadi dan kawan-kawan, pascaputusan praperadilan yang kedua ditolak, KPK mengimbau agar menyerahkan diri ke KPK," tegas Ali.
 
KPK masih belum menangkap tiga tersangka kasus dugaan suap dan gratifikasi terkait pengadaan perkara di MA. Ketiga tersangka, yakni Nurhadi, Direktur PT Multicon Indrajaya Terminal (PT MIT) Hiendra Soenjoto, dan menantu Nurhadi, Rezky Herbiyono.
 
Nurhadi diduga menerima suap Rp33,1 miliar dari Hiendra lewat Rezky. Suap dimaksudkan untuk memenangkan Hiendra dalam perkara perdata kepemilikan saham PT MIT. Selain itu, Nurhadi diduga menerima sembilan cek dari Hiendra terkait peninjauan kembali (PK) perkara di MA.
 
Pada kasus gratifikasi, Nurhadi diduga mengantongi Rp12,9 miliar dalam kurun waktu Oktober 2014 sampai Agustus 2016. Gratifikasi diduga terkait pengurusan perkara sengketa tanah di tingkat kasasi dan PK serta permohonan perwalian.
 
Virus Korona Tak Setop Perburuan Nurhadi
Eks Sekretaris MA Nurhadi. Foto: MI/Rommy Pujianto
 
Baca: Mencari Keberadaan Nurhadi
 
Sebagai penerima, Nurhadi dan Rezky disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau Pasal 12 huruf b subsider Pasal 5 ayat (2) lebih subsider Pasal 11 dan/atau Pasal 12B Undang-Undang (UU) Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.
 
Hiendra disangkakan melanggar Pasal 5 ayat (1) huruf a atau Pasal 5 ayat (1) huruf b subsider Pasal 13 UU Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 juncto Pasal 64 ayat (1) KUHP.
 

(OGI)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif