Pengacara terpidana korupsi hak tagih Bank Bali Djoko Soegiarto Tjandra, Anita Dewi Kolopaking. Foto: Medcom.id/Siti Yona Hukmana
Pengacara terpidana korupsi hak tagih Bank Bali Djoko Soegiarto Tjandra, Anita Dewi Kolopaking. Foto: Medcom.id/Siti Yona Hukmana

Anita Kolopaking Takut Senasib dengan Novel Baswedan

Nasional kasus korupsi Djoko Tjandra
Siti Yona Hukmana • 06 Agustus 2020 09:29
Jakarta: Tersangka pemalsuan surat jalan, Anita Kolopaking, mengadu mendapatkan ancaman kepada Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK). Teror datang setelah dia ditetapkan sebagai tersangka oleh Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri.
 
"Dia takut mengalami hal serupa (penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi) Novel Baswedan, makanya minta perlindungan," kata Wakil Ketua LPSK Edwin Partogi kepada Medcom.id, Kamis, 6 Agustus 2020.
 
Novel Baswedan diserang dengan air keras pada 11 April 2017. Dua pelaku yang berprofesi sebagai polisi dibekuk Kamis, 26 Desember 2019. Penyidik KPK itu diteror lantaran dianggap mengkhianati Korps Bhayangkara.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Edwin menjelaskan LPSK telah memeriksa Anita. Pengacara narapidana kasus korupsi hak tagih Bank Bali, Djoko Soegiarto Tjandra, dimintai keterangan selama dua hari: Senin, 3 dan Selasa, 4 Agustus 2020.
 
"Dia (Anita) menyampaikan bahwa beberapa orang dari instansi mengingatkan dia untuk waspada dan mengubah kebiasaan," ujar Edwin.
 
Edwin tak memaparkan instansi yang dimaksud. Dia hanya menyebut LPSK belum menemukan bentuk ancaman terhadap Anita. Teror baru sekadar pengakuan Anita. LPSK masih menginvestigasi dugaan ancaman tersebut.
 
"Kami akan cross-check (pemeriksaan silang) keterangan Anita Kolopaking dari berbagai sumber lainnya," ungkap Edwin.
 
Di luar kasus surat jalan, Edwin menyebut Anita menjadi pelapor dalam kasus informasi dan transaksi elektronik (ITE) di LPSK. Pihaknya akan melindungi Anita jika ancaman itu terbukti.
 
Baca:Anita Kolopaking Absen dari Pemeriksaan
 
"ITE itu karena handphone AK (Anita) di-hack (diretas). Sebagai tersangka, hanya bisa dilindungi bila memenuhi syarat sebagai justice collaborator, artinya sepanjang kami menemukan adanya ancaman keselamatan jiwa," papar Edwin.
 
Anita ditetapkan sebagai tersangka pada Kamis, 30 Juli 2020. Anita dijerat Pasal 263 ayat (2) KUHP tentang Penggunaan Surat Palsu dan Pasal 223 KUHP tentang Pemberian Pertolongan terhadap Orang yang Ditahan. Anita terancam hukuman enam tahun penjara.
 
(OGI)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif