Ilustrasi: Medcom.id
Ilustrasi: Medcom.id

Kompolnas Desak Polri Tangkap Otak Pemalsuan Label SNI

Nasional pemalsuan
Yogi Bayu Aji • 12 Agustus 2020 00:50
Jakarta: Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) menyoroti mangkraknya kasus pemalsuan label standar nasional Indonesia (SNI) yang berpotensi merugikan negara Rp2,7 triliun. Kasus ini harus menjadi perhatian penting penyidik.
 
“Pada prinsipnya semua laporan kepada polisi harus ditindaklanjuti,” kata Komisioner Kompolnas Poengky Indarti di Jakarta, Selasa, 11 Agustus 2020.
 
Menurut dia, laporan kasus pemalsuan label SNI produk besi siku disampaikan pada Juni 2020 dan telah ada pasal-pasal yang diterapkan. Dalam kasus ini, penyidik memang telah menangkap sejumlah tersangka, tetapi aktor atau pelaku utamanya masih berkeliaranbebas.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Poengky berharap penyidik dapat segera menangkap seluruh pelaku yang terlibat dalam pemalsuan label SNI ini tanpa pandang bulu. Pasalnya, kasus ini melibatkan komplotan.
 
"Maka diharapkan penyidik dapat segera menangkap main perpetrator-nya (pelaku utama). Jangan sampai melarikan diri, menghilangkan barang bukti, dan melakukan kejahatan lagi,” tegas dia.
 
Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane sempat mempertanyakan sikap kepolisian yang dinilai tidak transparan dalam kasus pemalsuan label SNI. Sementara itu, kasus ini dianggap merugikan kepentingan masyarakat luas.
 
“Kenapa kasus pemalsuan label SNI pada produk besi siku di KBN (Kawasan Berikat Nusantara) Marunda, Jakarta Utara, tak kunjung dituntaskan. Padahal informasinya, penangkapan sudah dilakukan pada 17 Juni 2020,” kata Neta.
 
Berdasarkan informasi yang diterima IPW, sambung Neta, praktik pemalsuan label SNI pada besi siku itu sudah berlangsung selama tiga tahun. Negara disebut berpotensi merugikan Rp2,7 triliun.
 
Baca: Pelapor Diminta Adukan Kasus Pemalsuan Label SNI ke Propam
 
“Kenapa pemilik perusahaan pemalsu label SNI pada produk besi siku tidak ditangkap dan dijadikan tersangka serta (hingga sekarang) dibiarkan bebas?” tanya Neta.
 
Dia menyampaikan IPW mendapat informasi terbongkarnya kasus ini bermula dari surat palsu pemesanan barang dari Thailand. Setelah sampai di Indonesia, barang berupa besi siku itu diakui sebagai produk dalam negeri dan ditempel label SNI palsu untuk dijual kepada konsumen.
 
(OGI)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif