Direktur Eksekutif Amnesty Internasional Indonesia Usman Hamid. Foto: Medcom.id/Siti Yona Hukmana.
Direktur Eksekutif Amnesty Internasional Indonesia Usman Hamid. Foto: Medcom.id/Siti Yona Hukmana.

Kapolda Ditodong Buka Temuan Kasus Novel

Nasional novel baswedan
Siti Yona Hukmana • 09 Juli 2019 12:19
Jakarta: Polisi diminta membeberkan temuan kasus penyiraman air keras yang menimpa penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan. Permintaan itu diajukan menyusul selesainya penugasantim satuan tugas (satgas) pada Minggu, 7 Juli 2019 atau enam bulan sejak tim dibentuk.
 
Hal itu diungkapkanDirektur Eksekutif Amnesty Internasional Indonesia Usman Hamidsaat menemui Kapolda Metro Jaya Irjen Gatot Eddy Pramono di Gedung Promoter, Mapolda Metro Jaya, Jakarta Selatan.
 
"Tentu saja kita menunggu laporan itu. Mudah-mudahan pertemuan ini bisa membahas masalah itu sekalian," kata Usman di Mapolda Metro Jaya, Jalan Jendral Sudirman, Jakarta Selatan, Selasa, 9 Juli 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Usman berharap tim satgas yang di antaranya terdapat 53 polisi dapat menemukan titik terang. Pasalnya, kasus Novel sudah mangkrak lebih dari dua tahun.
 
"(Diharap) ada semacam kemajuan yang signifikan dengan hasil kerja tim di bawah Kapolri (Jendral Tito Karnavian) berkenaan dengan pengusutan kasus penyerangan terhadap Pak Novel," tutur Usman.
 
Baca: KPK Belum Terima Laporan Kerja Tim Khusus Polri
 
Agenda Amnesty menemui Irjen Gatot Eddy sejatinya untuk membahas kerusuhan 21-22 Mei 2019. Peristiwa itu menewaskan sembilan masyarakat sipil hingga perusakan Asrama Brigade Mobil (Brimob), Jakarta Barat.
 
"Di luar itu bisa saja misal masalah Novel, agenda penegakan HAM secara umum yang memang Amnesty berkepentingan untuk menyampaikan kepada seluruh jajaran kepolisian tentang sembilan agenda HAM yang ditetapkan untuk periode pemerintahan 2019-2024," pungkas dia.
 
Novel diserang orang tak dikenal pada Selasa, 11 April 2017, usai salat Subuh di Masjid Al-Ihsan di dekat rumahnya, Kelapa Gading, Jakarta Utara. Hingga 800 hari pascateror, polisi belum juga mengungkap pelaku atau otak intelektual dari teror keji tersebut.
 

(OGI)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif