Ilustrasi. Medcom.id
Ilustrasi. Medcom.id

Polisi Segera Tentukan Nasib Perkara OTT Pejabat UNJ

Nasional kasus korupsi
Siti Yona Hukmana • 28 Mei 2020 19:55
Jakarta: Subdit Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya melakukan gelar perkara terkait operasi tangkap tangan (OTT) pejabat Universitas Negeri Jakarta (UNJ) dan beberapa pejabat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Nasib kasus ditentukan dalam gelar perkara.
 
"Nanti kita lihat apakah memang unsur-unsur itu masuk dalam konstruksi perkaranya. Kalau masuk baru naik ke tingkat penyidikan, tapi kalau tidak memenuhi unsur-unsur persangkaannya nanti akan kita SP3 (surat penghentian penyidikan dan penuntutan)," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus di Mapolda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Kamis, 28 Mei 2020.
 
Menurut Yusri, penyidik telah memeriksa sejumlah saksi. Mereka yakni 15 orang pejabat UNJ dan satu pegawai Kementerian Riset Tenologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti). Pejabat UNJ itu adalah anggota yang ikut rapat pimpinan nasional (Rapimnas).

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Semua data sudah kita kumpulkan," ujar Yusri.
 
Syarat-syarat melakukan gelar perkara telah terpenuhi. Gelar perkara bakal disaksikan oleh jajaran Mabes Polri.
 
"Namun, tidak lupa kita tetap koordinasi yang baik dengan teman-teman KPK, karena ini kan penyerahan perkara dari KPK," ucap Yusri.
 
Baca: OTT Kemendikbud dan Rektor UNJ Dilimpahkan ke Polri
 
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Inspektorat Jenderal (Itjen) Kemendikbud melakukan OTT kepada pejabat UNJ dan Kemendikbud. Mereka yang terjaring yakni Rektor UNJ Komaruddin, Kepala Bagian (Kabag) Kepegawaian UNJ Dwi Achmad Noor, Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan UNJ Sofia Hartati, Analis Kepegawaian Biro Sumber Daya Manusia (SDM) Kemendikbud Tatik Supartiah, Kepala Biro (Karo) SDM Kemendikbud Diah Ismayanti, serta dua staf SDM Kemendikbud Parjono dan Dinar Suliya.
 
Barang bukti berupa uang sebesar USD1.200 (Rp17,7 juta) dan Rp27,5 juta. OTT terjadi Rabu, 20 Mei 2020 sekitar pukul 11.09 WIB. Operasi bersama ini berawal dari informasi Itjen Kemendikbud perihal dugaan penyerahan uang dari Rektor UNJ kepada pejabat di Kemendikbud.
 
Kasus rasuah ini bermula pada Rabu, 13 Mei 2020. Saat itu, Komarudin meminta dekan di UNJ mengumpulkan uang tunjangan hari raya (THR) masing-masing Rp5 juta melalui Dwi. THR itu rencananya diserahkan kepada pejabat Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) dan staf SDM Kemendikbud.
 
Pada Selasa, 19 Mei 2020, uang Rp55 juta dari urunan delapan fakultas, dua lembaga penelitian, dan pascasarjana UNJ terkumpul. Sehari kemudian, Dwi membawa uang urunan Rp37 juta ke Kemendikbud. Karo SDM Kemendikbud Diah Ismayanti menerima Rp5 juta dari Dwi.
 
Analis Kepegawaian Biro SDM Kemendikbud Tatik Supartiah menerima Rp2,5 juta, serta staf SDM Kemendikbud, Parjono dan Tuti, masing-masing sebesar Rp1 juta.
 
Namun, KPK kemudian melimpahkan kasus ini ke Polri. KPK bisa kembali mengambil kasus ini tergantung dari hasil pendalaman tim penyidik Polri.
 
Polda Metro Jaya tak menahan tujuh orang yang terlibat dalam OTT itu, mereka hanya diminta wajib lapor. Polisi bahkan belum menetapkan tesangka dalam kasus ini dengan alasan kasus tersebut baru diserahkan dari KPK.
 

(JMS)

LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif