Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono. MI/Susanto.
Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono. MI/Susanto.

Polisi Bantah Penghentian Kasus Mantan Kadis SDA DKI

Nasional pemprov dki
Siti Yona Hukmana • 02 Juli 2019 17:33
Jakarta: Polisi membantah kasus perusakan atau memasuki pekarangan tanpa izin mantan Kepala Dinas (Kadis) Sumber Daya Air (SDA) DKI Jakarta Teguh Hendrawan dihentikan atau SP3. Kasus itu masih diproses penyidik.
 
"Belum SP3. Kan masih dalam proses toh," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono di Mapolda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Selasa, 2 Juli 2019.
 
Polisi disebut mengeluarkan Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3) dalam kasus Teguh. Argo menegaskan informasi itu tak benar.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Argo enggan menjelaskan lebih rinci terkait perkembangan kasus tersebut. Dalam kasus ini, penyidik Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) telah menetapkan Teguh sebagai tersangka sejak Agustus 2018.
 
Teguh ditetapkan sebagai tersangka usai gelar perkara pada 20 Agustus 2018. Dia dilaporkan Felix Tirtawidjaja atas dugaan perusakan atau memasuki pekarangan tanpa izin sesuai Pasal 170, Pasal 406, Pasal 167, dan Pasal 389 Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP).
 
Baca: Dari Cibinong Mengadu Peruntungan di PPDB Nonzonasi Jakarta
 
Teguh kaget atas status tersangka ini lantaran tak merasa melanggar hukum. Dia mengaku hanya menjalankan tugas. "Saya dilaporkan telah memasuki pekarangan orang dan melakukan pengerusakan. Padahal, saya mengamankan aset daerah," kata Teguh, Rabu, 29 Agustus 2018.
 
Peristiwa yang diduga perusakan terjadi di Rawa Rotan, Cakung, Jakarta Timur, pada 20 Agustus 2016. Menurut dia, lahan 25 hektare yang dimasuki adalah milik Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI. Lahan sudah terdaftar di sistem informasi aset (SIA) di Dinas Badan Pengelola Aset Daerah (BPAD).
 
Teguh menyatakan saat ini lahan tersebut sudah menjadi Waduk Rawa Rorotan di Cakung. Waduk tersebut dibuat saat masa kepemimpinan Gubernur Basuki Tjahaja Purnama pada 2016.
 
Ia menyampaikan Waduk Rawa Rorotan telah menjadi objek vital. Pasalnya, waduk itu adalah penyedia air baku untuk wilayah Jakarta Timur dan Jakarta Utara.
 
"Pertanyaan saya adalah saya kerja sebagai kepala dinas kok masih ditetapkan tersangka. Padahal, tugas saya telah diatur di Kementerian Dalam Negeri," pungkas dia.
 
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mencopot jabatan Teguh pada Senin, 25 Februari 2019. Alasan pencopotan itu adalah kinerja Teguh belakangan dinilai buruk.
 

 

(DRI)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif