Bupati Minahasa Selatan Christiany Eugenia Paruntu - Medcom.id/Candra Yuri Nuralam.
Bupati Minahasa Selatan Christiany Eugenia Paruntu - Medcom.id/Candra Yuri Nuralam.

Bupati Minsel Dicecar Hubungannya dengan Bowo Sidik

Nasional OTT KPK
Candra Yuri Nuralam • 27 Juni 2019 00:29
Jakarta: Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mencecar Bupati Minahasa Selatan Christiany Eugenia Paruntu terkait hubungannya dengan Bowo Sidik Pangarso. Rabu siang, 26 Juni 2019 tadi, Christiany diperiksa sebagai saksi dalam kasus yang menjerat politikus Partai Golkar tersebut.
 
"Jadi pengetahuan-pengetahuan saksi terkait dengan misalnya pengajuan proposalnya bagaimana pengurusan anggarannya hubungan dengan tersangka BSP (Bowo Sidik Pangarso)," kata Juru Bicara KPK, Febri Diansyah di Gedung KPK, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu 26 Juni 2019.
 
Febri mengatakan, Christiany dipersika berdasarkan kesaksian dari Kepala Dinas Perdagangan di Kabupaten Minahasa Selatan yang sudah diperiksa sebelumnya. KPK ingin mengetahui peran Christiany dalam proses penganggaran revitalisasi empat di Kabupaten Minahasa Selatan tahun 2017 sampai 2018.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Febri mengatakan, Christiany merupakan orang yang menyusun proposal proyek tersebut. Tentunya, Christiany berhubungan langsung dengan Bowo Sidik.
 
"Seperti apa karena pengurusan anggaran ini diduga membutuhkan relasi-relasi dengan unsur legislatif di pusat atau dalam posisi BSP sebagai anggota DPR RI," ujar Febry.
 
Christiany juga dicecar terkait pengetahuannya dengan kasus Bowo Sidik. Sebab, ia diduga mengetahui lebih dalam terkait kasus tersebut.
 
"Sampai saat ini berarti setidaknya teridentifikasi sekitar 4 sumber yah atau 4 keterkaitan dana gratifikasi tersebut dari berbagai pihak yang kami pandang berhubungan dengan jabatan BSP sebagai anggota DPR RI," tutur Febri.
 
Bowo bersama Asty Winasti dan Indung ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan suap terkait kerjasama pengangkutan pupuk milik PT Pupuk Indonesia Logistik dengan PT HTK. Bowo dan Idung penerima sedangkan Asty pemberi suap.
 
Bowo diduga meminta fee dari PT HTK atas biaya angkut. Total fee yang diterima Bowo USD2 permetric ton. Diduga telah enam kali menerima fee di sejumlah tempat seperti rumah sakit, hotel dan kantor PT HTK sejumlah Rp221 juta dan USD85.130.
 
Uang sekitar Rp8 miliar dalam pecahan Rp20 ribu dan Rp50 ribu itu telah dimasukkan dalam amplop-amplop. Uang tersebut diduga bakal digunakan Bowo untuk 'serangan fajar' pada Pemilu 2019. Politikus Golkar itu kembali mencalonkan diri pada Pemilu 2019 di daerah pemilihan Jawa Tengah II.
 
Baca:Bupati Minsel Pelit Bicara Usai Pemeriksaan di KPK
 
Bowo dan Indung selaku penerima suap disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau b ayat (1) atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.
 
Asty selaku penyuap dijerat Pasal 5 ayat (1) huruf a atau b atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
 

(DMR)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif