Ilustrasi. (Foto: MI/Susanto)
Ilustrasi. (Foto: MI/Susanto)

Isu Adanya Faksi Dinilai Upaya Melemahkan KPK

Nasional kpk novel baswedan
Candra Yuri Nuralam • 14 Juli 2019 12:54
Jakarta: Ketua Yayasan Lembaga Hukum Indonesia (YLBHI) Asfinawati ikut menyoroti isu adanya faksi di internal penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Ia menilai isu tersebut sebagai upaya melemahkan Lembaga Antirasuah.
 
"Jadi soal Taliban dan India itu kan tidak terverifikasi dan juga tidak jelas apa yang dimaksud," kata Asfina kenapa Medcom.id, Minggu 14 Juli 2019.
 
Menurut Asfina, publik perlu melihat isu tersebut dengan jernih. Ia menilai isu kubu-kubuan di internal KPK tak dikaitkan terlalu jauh. Tolok ukur melihat KPK tetap dari kinerjanya. "Ya, pemberantasan korupsi."

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Menurut Asfina, isu itu sengaja dihembuskan untuk membuat citra KPK rusak. Tujuan utamanya, kata dia, menggiring opini publik agar menilai KPK dipenuhi orang-orang dengan kepentingan pribadi.
 
"Karena itu, penilaian kinerja orang-orang di dalam (KPK) sederhana, apakah kerjanya untuk pemberantasan korupsi atau sebaliknya, yaitu menghalangi kerja pemberantasan korupsi, itu saja," jelasnya.
 
Baca: Pimpinan KPK Diminta Mengklarifikasi Isu Faksi
 
Asfina mendengar informasi kalau isu faksi yang disebut dengan 'polisi Taliban vs polisi India' itu bermula dari perbedaan pendapat internal KPK terkait pengungkapan kasus penyerangan terhadap penyidik senior KPK Novel Baswedan. Lalu, ada pihak yang mengaitkan kasus Novel dengan konstelasi politik Tanah Air.
 
"Soal Novel kita tahu dia korban dan pelakunya sangat besar terindikasi dari kelompok yang mau menghancurkan pemberantasan korupsi," tandasnya.
 
Isu adanya faksi di internal KPK mencuat pertama kali dari lembaga Indonesia Police watch (IPW). Ketua Presidium IPW Neta S Pane menyebut ada kelompok 'Polisi Taliban vs Polisi India' dalam tubuh KPK. Hal ini bermuara pada seteru di internal KPK soal pimpinan yang mesti menjaga soliditas Lembaga Antirasuah.
 
Menurut Neta, kelompok 'polisi Taliban' merujuk pada kubu penyidik senior KPK Novel Baswedan. Sedangkan, 'polisi India' ditujukan bagi penyidik di luar kubu Novel.
 
Sementara, Ketua Wadah Pegawai KPK Yudi Purnomo menepis adanya kelompok-kelompok di internal Lembaga Antirasuah. Bagi Yudi, istilah 'Polisi Taliban vs Polisi India' juga tak jelas maksudnya.
 
"Perbedaan pendapat di antara pegawai, saya pikir itu merupakan hal wajar dan justru sehat bagi organisasi KPK karena memang tugas sesama pegawai KPK adalah saling mengawasi jika kawannya melakukan pelanggaran etik dan melaporkan kepada pengawas internal," beber Yudi.
 

(AGA)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif