Suasana sidang pembacaan Pleno Wisnu Kuncoro. Medcom.id/ Kautsar WP
Suasana sidang pembacaan Pleno Wisnu Kuncoro. Medcom.id/ Kautsar WP

Eks Direktur Krakatau Steel Mentahkan Dakwaan JPU

Nasional OTT KPK
Kautsar Widya Prabowo • 31 Oktober 2019 02:19
Jakarta: Mantan Direktur Produksi dan Teknologi PT Krakatau Steel (Persero) Wisnu Kuncoro mengatakan pihaknya tidak berwenang mengurus proses perencanaan maupun proses pengadaan barang dan jasa di perusahaan baja nasional tersebut. Tugas itu menjadi kewenangan general manager.
 
"Kewenangan saya sebagai direktur produksi dan teknologi adalah menetapkan kondisi darurat atau menetapkan barang dan jasa tersebut dalam kategori spesifik," ujar Wisnu dalam pembacaan Pleno, di Pengadilan Tipikor, Jalan Bungur Raya, Kemayoran, Jakarta Pusat, Rabu, 30 Oktober 2019.
 
Ia juga memastikan dalam pertemuanya bersama Direktur Utama PT Grand Kertech Kennet Sutardja tidak terdapat kesepakatan yang berujung pada tindakan rasuah. Wisnu mengklaim pertemuan tersebut hanya sebatas silahturahmi.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Selama saya menjadi direktur tidak pernah ada proyek yang dikerjakan Grand Kertech dan Tjokro," tutur dia.
 
Selain itu, dugaan dirinya menerima uang dari Kurniawan Eddy Tjokro dan Kennet Sutardja melalui perantara Alexander Muskitta menurut dia tidak tepat. Sebab ia dan Alex tidak pernah ada kesamaan niat dalam melakukan penyuapan. Terlebih Wisnu tidak mengetahui adanya perbincangan kesepakatan antara Alex, Kenneth, dan Yudi.
 
"Alex juga mengungkapkan di persidangan tindakannya meminta uang dan menerima uang dari (Yudi) Tjokro dan Kenneth dengan mencatut nama saya bertujuan untuk kepentingan pribadinya sendiri," ujar Wisnu.
 
Wisnu mengaku sama sekali tidak tahu jika namanya digunakan Alex untuk melancarkan mendapat keuntungan dari Kennet dan Yudi. Alex murni melakukan untuk kepentingan pribadi, bukan untuk proses memperlancar pengadaan pemasangan dua unit Spare Bucket Wheel Stacker dan Harbors Stockyard, seperti yang didakwakan oleh Jaksa Penuntut Umum Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
 
"Inilah yang mendasari musibah pada diri saya," pungkas Wisnu.
 
Wisnu dinilai terbukti menerima fulus dari Direktur utama PT Grand Kertech, Kenneth Sutardja, dan Direktur PT Tjokro Bersaudara, Kurniawan Eddy Tjokro. Suap sebesar Rp157 juta itu diberikan kepada Wisnu melalui perantara Alexander Muskitta.
 
Jaksa menyebut suap ini diberikan supaya Wisnu melancarkan pengadaan pemasangan dua unit Spare Bucket Wheel Stacker dan Harbors Stockyard. Nilai kontrak pengadaan tersebut Rp13 miliar.
 
Alexander juga menjadi terdakwa dalam perkara ini. Dia dituntut tiga tahun penjara dan denda Rp100 juta subsider tiga bulan kurungan dalam berkas penuntutan yang terpisah.
 
Jaksa KPK menyangkakan Wisnu dan Alexander melanggar Pasal 11 UU Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dalam UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP, juncto Pasal 64 ayat (1) KUHP.
 

(SCI)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif