Penyidik senior KPK Novel Baswedan memberikan keterangan pers setelah diperiksa sebagai saksi di gedung KPK, Jakarta. (Foto: ANTARA/Yulius Satria Wijaya)
Penyidik senior KPK Novel Baswedan memberikan keterangan pers setelah diperiksa sebagai saksi di gedung KPK, Jakarta. (Foto: ANTARA/Yulius Satria Wijaya)

TGPF Polri Diminta Maksimal Usut Penyerangan Novel Baswedan

Nasional novel baswedan
Siti Yona Hukmana • 21 Juni 2019 10:44
Jakarta: Masa kerja Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) Polri untuk mengungkap kasus penyerangan terhadap penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan tinggal dua pekan lagi. Penyidik Polri pun diminta untuk bekerja lebih maksimal.
 
"Tim Gabungan tidak bekerja maksimal. Bahkan hingga dua minggu waktu kerjanya habis," kata Anggota Tim Kuasa Hukum Novel, Alghiffari Aqsa kepada Medcom.id di Jakarta, Jumat, 21 Juni 2019.
 
Tim gabungan khusus itu dibentuk Kapolri Jenderal Tito Karnavian melalui surat tugas Kapolri bernomor Sgas/3/I/HUK.6.6./2019 yang dikeluarkan pada 8 Januari 2019. Tim ini bertugas menyelidik dan menyidik kekerasan terhadap Novel selama enam bulan terhitung sejak 8 Januari 2019 sampai dengan 7 Juli 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Baca juga:Novel Baswedan Pernah Diperingatkan Akan Diserang
 
Alghiffari menilai, dari mula dibentuk hingga hampir habis masa penyelidikan, tak ada perubahan yang signifikan dalam penyelidikan. Pelaku penyiraman air keras yang menimpa Novel tak kunjung terungkap.
 
"Masih tidak ada kemajuan signifikan. Bukti yang kita kira sudah mereka dalami juga tidak mereka dalami," tandas Alghiffari.
 
Alghiffari meyakini lebih baik dibentuk tim independen untuk melakukan penyelidikan terkait kasus yang menimpa Novel. Di sisi lain, KPK disarankan untuk menggunakan penyelidikan terkait obstruction of justice atau penyelidikan terhadap suatu tindakan seseorang yang menghalang-halangi proses hukum.
 
"Tapi, saran kita justru serahkan ke TGPF Independen yang dibentuk presiden," pungkasnya.
 
Novel diserang orang tak dikenal pada Selasa, 11 April 2017, usai menjalani salat Subuh di Masjid Al-Ihsan di dekat rumahnya, Kelapa Gading, Jakarta Utara. Namun, hingga 800 hari pascateror, polisi belum juga mengungkap pelaku atau otak intelektual dari teror keji tersebut.
 

(MEL)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif