Juru Bicara KPK Febri Diansyah. Foto: Medcom,id/Damar Iradat
Juru Bicara KPK Febri Diansyah. Foto: Medcom,id/Damar Iradat

Petinggi Humpuss Transportasi Kimia Segera Diperiksa

Nasional OTT KPK
Juven Martua Sitompul • 29 Maret 2019 23:51
Jakarta: Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) segera menjadwalkan pemeriksaan terhadap petinggi PT Humpuss Transportasi Kimia (PT HTK). Keterangan pejabat PT HTK dibutuhkan untuk mengungkap kasus dugaan suap kerjasama distribusi pengangkutan pupuk.
 
"Nanti kita tunggu saja, kalau sudah bicara soal spesifik terhadap orang-orang tertentu nanti kita tunggu inofrmasi pemeriksaaanya," kata juru bicara KPK Febri Diansyah di Gedung KPK, Jakarta, Jumat, 29 Maret 2019.
 
Menurut Febri, pemeriksaan ini penting dilakukan untuk mendalami sejumlah pertemuan antara Anggota Komisi VI DPR RI Bowo Sidik Pangarso dengan pihak korporasi yang diduga terlibat praktik kotor tersebut. Terpenting, mengorek informasi cawe-cawe kontrak kerja antara PT HTK dengan PT Pupuk Indonesia Logistik terkait pengangkutan pupuk.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Nah, itu pasti akan dalami dalam proses penyidikan," ujarnya.
 
Pemeriksaan para saksi rencananya mulai digelar pekan depan. Informasi pemanggilan bakal disampaikan lebih lanjut setelah penyidik selesai menjadwal pemeriksaan para saksi.
 
"Persisnya kapan dan siapa yang akan diperiksa nanti kalau sudah ada informasi yang akan diinformasikan," pungkasnya.
 
Bowo bersama Marketing Manager PT HTK, Asty Winasti dan Staf PT Inersa, Indung ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan suap terkait kerjasama pengangkutan pupuk milik PT Pupuk Indonesia Logistik dengan PT HTK. Bowo dan Idung sebagai penerima sedangkan Asty pemberi suap.
 
Bowo diduga meminta fee dari PT HTK atas biaya angkut. Total fee yang diterima Bowo USD2 permetric ton. Diduga telah terjadi enam kali menerima fee di sejumlah tempat seperti rumah sakit, hotel dan kantor PT HTK sejumlah Rp221 juta dan USD85.130.
 
Baca:Bowo Sidik Terima Suap Sejak 2018
 
Bowo dan Indung selaku penerima suap disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau b ayat (1) atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.
 
Sedangkan Asty selaku penyuap dijerat Pasal 5 ayat (1) huruf a atau b atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
 

(DMR)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif