Anggota Ombudsman RI Bidang Ekonomi, Dadan Supardjo Suharmawijaya. Foto: Medcom/Intan
Anggota Ombudsman RI Bidang Ekonomi, Dadan Supardjo Suharmawijaya. Foto: Medcom/Intan

Ombudsman: Jiwasraya Puncak Es Kasus Asuransi

Nasional Jiwasraya
Intan Yunelia • 18 Januari 2020 12:06
Jakarta: Ombudsman RI menerima 74 laporan kasus gagal bayar dari pemegang polis sejumlah asuransi. Kasusnya tak jauh berbeda dengan apa yang terjadi di Jiwasraya saat ini.
 
"Sekitar 74 laporan yang masuk ke Ombudsman terkait asuran ini. Kebetulan tipe kasusnya sama kira-kira ada gagal bayar terjadi karena sesuatu hal yang terkait," kata Anggota Ombudsman RI Bidang Ekonomi, Dadan Supardjo Suharmawijaya saat diskusi Populi Center dengan topik 'Mencoba Mengerti Kerumitan Masalah Jiwasraya', di The MAJ Senayan, Jakarta, Sabtu, 18 Januari 2020.
 
Dadan mengatakan kasus Jiwasraya adalah puncak dari kisruh gagal bayar asuransi. Ombudsman Menduga ada modus lain lantaran kasus ini terjadi masif dam kerugiannya mencapai triliunan rupiah.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Bagi kami semacam gunung es ada asuransi yang gagal bayar dan dibaliknya ada apa? Ini kan massal, kalau ada satu orang yang jatuh tempo di waktu tertentu, berapa jumlah pemegang polis di asuransi itu dan sejumlah itulah persoalan yang ada," ujar Dadan.
 
Kasus Jiwasraya bermula dari laporan pengaduan masyarakat dan Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta yang mengendus adanya dugaan tindak pidana korupsi sejak 2014 sampai dengan 2018.
 
Jiwasraya melalui unit kerja pusat Bancassurance dan Aliansi Strategis menjual produk JS Saving Plan dengan tawaran persentase bunga tinggi berkisar antara 6,5 persen dan 10 persen. Dengan itu, JiwaSraya memperoleh pendapatan total dari premi sebesar Rp53,27 triliun.
 
Hingga Agustus 2019, Jiwasraya menanggung potensi kerugian negara sebesar Rp13,7 triliun. Jiwasraya membutuhkan dana Rp32,89 triliun agar bisa mencapai rasio Risk Based Capital (RBC) minimal 120 persen. Secara umum, RBC adalah pengukuran tingkat kesehatan finansial suatu perusahaan asuransi, dengan ketentuan OJK mengatur minimal batas RBC sebesar 120 persen.
 
Terdapat empat alternatif penyelamatan Jiwasraya. Mulai dari strategic partner yang menghasilkan dana Rp5 triliun, inisiatif holding asuransi Rp7 triliun, menggunakan skema finansial reasuransi sebesar Rp1 triliun dan sumber dana lain dari pemegang saham sebesar Rp19,89 triliun. Jadi, total dana yang dihimpun dari penyelamatan tersebut sebesar Rp32,89 triliun.
 
Saat ini ada delapan perusahaan yang tertarik menyuntikan dana untuk pemulihan Jiwasraya. Nantinya satu perusahaan dengan penawaran terbaik akan dipilih untuk menjadi pemegang saham di Jiwasraya Putra sebagai anak usaha dari Jiwasraya.
 
Jiwasraya Putra telah membuat perjanjian kerjasama distribusi, salah satunya melalui kerja sama kanal pemasaran bancassurance. Kerja sama tersebut akan menggandeng perusahaan BUMN seperti PT Bank Tabungan Negara Tbk, PT Pegadaian, PT Telekomunikasi Seluler, dan PT Kereta Api Indonesia.
 

(NUR)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif