Juru bicara KPK Febri Diansyah. MI/Rommy Pujianto
Juru bicara KPK Febri Diansyah. MI/Rommy Pujianto

KPK Dalami Kasus Suap Bupati Talaud

Nasional kasus suap
Candra Yuri Nuralam • 26 Juni 2019 23:02
Jakarta: Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali mendalami kasus suap terkait pengadaan barang atau jasa di Kabupaten Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara. Untuk itu, siang tadi, KPK telah memeriksa dua orang Pegawai Negeri Sipil (PNS) Talaud sebagai saksi.
 
"Hari ini penyidik memeriksa dua orang saksi dari unsur PNS Kabupaten Talaud untuk tersangka Sri Wahyumi Maria Manalip terkait kasus tindak pidana korupsi suap pengadaan barang atau jasa di Kabupaten Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara," kata Juru Bicara KPK, Febri Diansyah di Gedung KPK, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu, 26 Juni 2019.
 
Dua orang PNS itu yakni Frans Wiel Lua dan Jelbi Eris. Keduanya berprofesi sebagai PNS Sekretariat Daerah Kabupaten Talaud.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Menurut Febri, dalam pemeriksaan tadi, keduanya dicecar soal permintaan fee 10 % oleh Sri Wahyumi kepada Pokja Perdagangan. Kedua saksi tadi dianggap mengetahui hal tersebut.
 
"Penyidik mendalami keterangan saksi terkait dugaan permintaan fee 10 % oleh Bupati pada Pokja Pengadaan," ujar Febri.
 
Sri Wahyumi bersama timsesnya bernama Benhur Lalenoh dan seorang pengusaha Bernard Hanafi Kalalo ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan suap pengadaan barang dan jasa di Kabupaten Talaud tahun anggaran 2019. Sri Wahyumi dan Benhur selaku penerima sementara Bernard pemberi suap.
 
Sri Wahyumi diduga meminta Benhul mencarikan kontraktor yang bersedia menggarap proyek di Pemkab Talaud dengan catatan mau memberikan fee 10%. Benhul lantas menawarkan Bernard untuk menggarap proyek tersebut.
 
Sebagai imbalannya, Bernard memberikan fee 10% dalam bentuk barang mewah sesuai permintaan Sri Wahyumi. Barang mewah itu yakni Handbag Chanel senilai Rp97.360.000, Tas Balenciaga bernilai Rp32.995.00, dan jam tangan Rolex seharga Rp224.500.000.
 
Kemudian, anting berlian Adelle bernilai Rp32.075.000 dan cincin berlian Rp76.925.000. Terakhir uang tunai sebesar Rp50.000.000.
 
Suap diduga berkaitan dengan dua proyek revitalisasi pasar di Kabupaten Talaud yaitu Pasar Lirung dan Pasar Beo. Diduga, terdapat proyek-proyek lain yang dibicarakan oleh ketiga orang tersebut.
 
Sri Wahyumi dan Benhul disangkakan Pasal 12 huruf a atau b ayat (1) atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.
 
Sedangkan Bernard selaku penyuap dijerat Pasal 5 ayat (1) huruf a atau b atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
 

(DMR)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif