Terdakwa Bowo Sidik Pangarso hadir dalam sidang dakwaan di Gedung Pengadilan Tipikor, Jakarta. (Foto: MI/Susanto)
Terdakwa Bowo Sidik Pangarso hadir dalam sidang dakwaan di Gedung Pengadilan Tipikor, Jakarta. (Foto: MI/Susanto)

Bowo Sidik Didakwa Terima Gratifikasi

Nasional OTT KPK
Fachri Audhia Hafiez • 14 Agustus 2019 12:30
Jakarta: Anggota Komisi VI DPR Bowo Sidik Pangarso didakwa menerima gratifikasi 700 ribu dolar Singapura dan Rp600 juta. Penerimaan uang terkait kewenangan Bowo sebagai wakil ketua komisi VI dan Badan Anggaran (Banggar) DPR.
 
"Selaku penyelenggara, telah melakukan serangkaian perbuatan yang masing-masing dipandang sebagai perbuatan yang berdiri sendiri sehingga merupakan beberapa kejahatan, yaitu telah menerima gratifikasi," kata Jaksa Penuntut Umum (JPU) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Kiki Ahmad Yani di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Kemayoran, Jakarta Pusat, Rabu, 14 Agustus 2019.
 
Uang dalam pecahan dolar Singapura diterima Bowo secara bertahap sejak 2016 hingga 2017 saat menjabat sebagai anggota Banggar DPR. Pada 2016, Bowo menerima 250 ribu dolar Singapura selaku anggota Banggar yang mengusulkan Kabupaten Kepulauan Meranti mendapatkan Dana Alokasi Khusus (DAK) fisik Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) 2016.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Masih di tahun yang sama, Politikus Partai Golkar itu juga menerima uang tunai sejumlah 50 ribu dolar Singapura pada saat mengikuti acara Musyawarah Nasional (Munas) Partai Golkar di Denpasar, Bali. Kemudian pada 26 Juli 2017, Bowo kembali menerima 200 ribu dolar Singapura selaku wakil ketua Komisi VI DPR yang sedang membahas Peraturan Menteri Perdagangan tentang Gula Rafinasi atau Perdagangan Gula Kristal Rafinasi melalui Pasar Lelang Komoditas.
 
Baca juga:KPK Geram Impor Pangan Masih Digerogoti Korupsi
 
"Keempat, pada 22 Agustus 2017, terdakwa telah menerima uang sejumlah 200 ribu dolar Singapura di Restoran AngusHouse Plaza Senayan, Lantai 4, Jalan Asia Afrika, Senayan, Jakarta, dalam kedudukannya selaku wakil ketua Komisi VI DPR yang bermitra dengan PT PLN yang merupakan BUMN," ujar Jaksa Kiki.
 
Sementara pada 2017 dan 2018, Bowo menerima masing-masing Rp300 juta saat membahas program pengembangan pasar dari Kementerian Perdagangan untuk Tahun Anggaran 2017. Total Rp600 juta yang diterima selama periode tersebut digunakan untuk keperluan pribadi.
 
"Bahwa penerimaan gratifikasi berupa uang tersebut tidak pernah dilaporkan oleh terdakwa kepada KPK dalam tenggang waktu 30 hari kerja sejak diterima sebagaimana dipersyaratkan dalam Undang-undang. Sehingga sudah seharusnya dianggap sebagai pemberian suap karena berhubungan dengan jabatan terdakwa," ucap Jaksa Kiki.
 
Atas perbuatannya, Bowo dinilai melanggar Pasal 12 B ayat (1) Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 65 KUH Pidana.
 
Baca juga:Manajer Marketing PT Humpus Dituntut Dua Tahun Penjara
 
Selain menerima gratifikasi, Bowo juga didakwa menerima suap dari Marketing Manajer Humpuss Transportasi Kimia (PT HTK), Asty Winasti dan Direktur PT HTK Taufik Agustono sebanyak USD163.733 dan Rp311.022.932. Suap diterima secara langsung maupun melalui orang kepercayaan Bowo, M Indung Andriani K.
 
Selain total suap tersebut, Bowo turut diduga menerima suap dari Direktur Utama PT Ardila Insan Sejahtera, Lamidi Jimat. Anggota DPR periode 2014-2019 itu menerima Rp300 juta dari Lamidi.
 
Suap tersebut diberikan agar Bowo membantu PT HTK mendapatkan kerjasama pekerjaan pengangkutan dan sewa kapal dengan PT Pilog. Serta membantu PT Ardila Insan Sejahtera menagihkan pembayaran hutang ke PT Djakarta LLOYD.
 
Dalam perkara suap, Bowo dinilai melanggar Pasal 12 huruf b atau 11 Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP jo Pasal 64 ayat (1) KUHP.
 

(MEL)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif