Jiwasraya. Foto: MI/Ramadani
Jiwasraya. Foto: MI/Ramadani

Jiwasraya Sengaja Alihkan Dana Nasabah untuk Investasi

Nasional Jiwasraya
Intan Yunelia • 19 Januari 2020 01:03
Jakarta: Ombudsman RI menemukan indikasi kesengajaan pengalihan dana nasabah Jiwasraya untuk investasi. Menurut anggota Ombudsman RI Bidang Ekonomi, Dadan Supardjo, harusnya investasi tak dilakukan, apalagi tujuannya mendongkrak nilai saham perusahaan rekanan yang cukup beresiko.
 
Jiwasraya, kata dia, harusnya menyimpan dana nasabah lewat deposito. Karena dana bisa diambil sewaktu-waktu untuk kebutuhan perusahaan.
 
"Tapi belakangan setelah kita periksa ini kebalik. Justru saham yang menjadi tinggi. Ketika menjadi tinggi ini menjadi satu indikasi dan ketika saham menjadi investasi paling tinggi ada banyak kecurigaan dong," kata Dadan di saat diskusi populi center dengan topik 'Mencoba Mengerti Kerumitan Masalah Jiwasraya', di The MAJ Senayan, Jakarta, Sabtu, 18 Januari 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ia menyebutkan bahwa kemungkinan ada kongkalikong antara Jiwasraya dengan perusahaan lain. Apakah investasi saham ini akan berdampak pada anggota polis atau untuk pribadi ini yang tidak jelas maksud tujuannya. Dampaknya, nilai saham semakin tergerus.
 
"Setelah kami lihat ada hal-hal yang menjadi indikasi ke arah sana ke perusahaan itu karena kami tidak hanya memeriksa satu perusahaan ya BUMN ini, tapi banyak," jelas Dadan.
 
Ia mengakui akan membawa langsung temuan-temuan ini ke pihak berwajib.
 
"Kami cari polanya dan ini nanti akan kami berikan ke DPR dan tentunya sebagai mitra kerja terkait temuan-temuan ini ke pemerintah, OJK, Kejaksaan dan kepolisian yang menangani kasus ini," tuturnya.
 
Kasus Jiwasraya bermula dari laporan pengaduan masyarakat dan Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta yang mengendus adanya dugaan tindak pidana korupsi sejak 2014 sampai dengan 2018.
 
Jiwasraya melalui unit kerja pusat Bancassurance dan Aliansi Strategis menjual produk JS Saving Plan dengan tawaran persentase bunga tinggi berkisar antara 6,5 persen dan 10 persen sehingga memperoleh pendapatan total dari premi sebesar Rp53,27 triliun.
 
Hingga Agustus 2019, Jiwasraya menanggung potensi kerugian negara sebesar Rp13,7 triliun. Jiwasraya membutuhkan dana Rp32,89 triliun agar bisa mencapai rasio Risk Based Capital (RBC) minimal 120 persen. Secara umum, RBC adalah pengukuran tingkat kesehatan finansial suatu perusahaan asuransi, dengan ketentuan OJK mengatur minimal batas RBC sebesar 120 persen.
 
Terdapat empat alternatif penyelamatan Jiwasraya. Mulai dari strategic partner yang menghasilkan dana Rp5 triliun, inisiatif holding asuransi Rp7 triliun, menggunakan skema finansial reasuransi sebesar Rp1 triliun dan sumber dana lain dari pemegang saham sebesar Rp19,89 triliun. Jadi, total dana yang dihimpun dari penyelamatan tersebut sebesar Rp32,89 triliun.
 
Saat ini ada delapan perusahaan yang tertarik menyuntikan dana untuk pemulihan Jiwasraya. Nantinya satu perusahaan dengan penawaran terbaik akan dipilih untuk menjadi pemegang saham di Jiwasraya Putra sebagai anak usaha dari Jiwasraya.
 
Jiwasraya Putra telah membuat perjanjian kerjasama distribusi, salah satunya melalui kerja sama kanal pemasaran bancassurance. Kerja sama tersebut akan menggandeng perusahaan BUMN seperti PT Bank Tabungan Negara Tbk, PT Pegadaian, PT Telekomunikasi Seluler, dan PT Kereta Api Indonesia.
 

(ADN)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif