Konferensi pers terkait operasi tangkap tangan penyalahgunaan izin tinggal di lingkungan kantor Imigrasi NTB/Medcom.id/Fachri Audhia Hafiez
Konferensi pers terkait operasi tangkap tangan penyalahgunaan izin tinggal di lingkungan kantor Imigrasi NTB/Medcom.id/Fachri Audhia Hafiez

Tersangka Suap Izin Tinggal WNA Diperiksa KPK

Nasional OTT KPK
Juven Martua Sitompul • 14 Juni 2019 10:34
Jakarta: Kepala Kantor Imigrasi Kelas I Mataram, Kurniadie dipanggil penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Dia akan diperiksa sebagai tersangka kasus dugaan suap izin tinggal warga negara asing (WNA) di lingkungan kantor Imigrasi Nusa Tenggara Barat (NTB).
 
"KUR diperiksa dalam kapasitasnya sebagai tersangka," kata juru bicara KPK Febri Diansyah melalui pesan singkat, Jakarta, Jumat, 14 Juni 2019.
 
Penyidik juga menjadwalkan pemeriksaan dua tersangka lain, yakni Kepala Seksi Intelijen dan Penindakan Kantor Imigrasi Kelas I Mataram, Yusriansyah Fazrin serta dan Direktur PT Wisata Bahagia juga pengelola Wyndham Sundacer Lombok, Liliana Hidayat.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Pemeriksaan dilakukan untuk melengkapi berkas penyidikan para tersangka," ujarnya.
 
Baca: Tong Sampah Medium Suap Izin Tinggal Turis
 
KPK menetapkan Kepala Kantor Imigrasi Kelas I Mataram, Kurniadie; Kepala Seksi Intelijen dan Penindakan Kantor Imigrasi Kelas I Mataram, Yusriansyah Fazrin; dan Direktur PT Wisata Bahagia juga pengelola Wyndham Sundacer Lombok, Liliana Hidayat sebagai tersangka kasus dugaan suap izin tinggal warga negara asing (WNA) di lingkungan kantor Imigrasi NTB. Kurniadie dan Yusriansyah selaku penerima suap, sedangkan Liliana sebagai pemberi suap. Dua petugas Imigrasi Mataram itu diduga menerima suap dari Liliana sebesar Rp1,2 miliar.
 
Suap diberikan agar pihak Imigrasi Mataram menghentikan proses hukum penyalahgunaan izin tinggal WNA berinisial BGW dan MK. Kedua WNA itu diduga masuk menggunakan visa sebagai turis biasa, namun bekerja di Wyndham Sundancer Lombok.
 
Awalnya, Liliana menawarkan uang Rp300 juta untuk menghentikan kasus tersebut. Namun, Yusriansyah menolak karena jumlahnya sedikit. Setelah bernegosiasi, kedua pihak akhirnya sepakat dengan nilai suap Rp1,2 miliar.
 
Baca: Tiga Hal Tak Biasa dalam Perkara Suap Izin Tinggal Turis
 
Yusriansyah dan Kurniadie selaku penerima disangkakan dengan Pasal 12 huruf a atau Pasal 12 huruf b atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo pasal 55 ayat (1) KUHP.
 
Sedangkan Liliana sebagai pihak pemberi dijerat Pasal 5 ayat (1) huruf a atau Pasal 5 ayat (1) huruf b atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
 

(OJE)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif