Ilustrasi: Medcom.id
Ilustrasi: Medcom.id

BNPT: Pemuda dan Perempuan Rentan Terpapar Radikalisme

Nasional radikalisme
Antara • 24 Februari 2020 09:01
Jakarta: Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyebut pemuda dan perempuan rentan terpapar radikalisme. Jika sudah berlebihan, ideologi ini bisa membuat seseorang menjadi teroris.
 
"Hal seperti itu harus menjadi perhatian kita semua,” kata Direktur Pencegahan BNPT Brigadir Jenderal (Brigjen) Hamli dalam keterangan tertulis, Minggu, 23 Februari 2020.
 
Menurut dia, terorisme dimulai dari sifat seseorang yang menunjukkan gejala pemikiran radikal negatif. Sementara itu, radikalisme bermula dari intoleransi.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Untuk itu, kata dia, masyarakat harus memahami benar soal terorisme, radikalisme, dan intoleransi. Dengan begitu, mereka dapat mencegah penyebaran pemikiran ini.
 
“Maka masyarakat juga ikut membantu pemerintah dalam rangka mencegah kejahatan itu, terutama kejahatan terorisme,” ujar alumnus Sekolah Perwira Militer Sukarela (Sepamilsuk) Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) 1989 ini.
 
Hamli menjelaskan terorisme tidak datang tiba-tiba hingga membuat seseorang menjadi teroris. Ibaratnya gunung es, terorisme ada di puncak, sedangkan bagian bawah diisi intoleransi.
 
Intoleran, kata dia, yakni sikap seseorang tidak mau menerima orang yang berbeda. Sikap ini menimbulkan pemikiran radikal negatif.
 
BNPT: Pemuda dan Perempuan Rentan Terpapar Radikalisme
Masyarakat membubuhkan tanda tangan bentuk keprihatinan dan dukungan terhadap korban kerusuhan Rutan Mako Brimob di Thamrin, Jakarta, Minggu, 12 Mei 2018. Foto: MI/Susanto
 
“Nah, ketika itu (pemikiran) mulai mengeras, kemudian bisa naik ‘pangkat’ jadi radikal teror,” kata jebolan teknik kimia Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya, Jawa Timur, itu.
 
Baca: Pemerintah Pantau Benih Radikalisme pada ASN
 
Penganut pemikiran radikal negatif memiliki ciri-ciri intoleransi, anti-Pancasila, anti-Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Mereka menganggap Indonesia negara kafir atau negara tagut.
 
Selain itu, lanjut dia, mereka suka mengafirkan orang lain dengan menyebarkan paham takfiri atau suka menyalahkan orang lain. Sejatinya, mengafirkan orang lain itu tidak diperbolehkan di dalam suatu agama.
 
"Agama apa pun bisa terjadi. Agama A menyalahkan agama B demiklian pula sebaliknya agama B menyalahkan agama A. Jadi, itu indikasinya. Jadi, marilah kita semua meyakini agama Anda masing-masing. Akan tetapi, Anda juga meyakini dan menghormati agama orang lain,” ujar mantan Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan Detasemen Khusus (Densus) 88/Antiteror Polri ini.
 

(OGI)

LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif