Tersangka KTP-el Diminta tak Pikun
Ilustrasi: Pengadilan. Medcom.id/Mohammad Rizal.
Jakarta: Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta meminta Made Oka Masagung, tersangka kasus dugaan korupsi KTP elektronik, tidak pikun. Pasalnya, Bos Delta Energy Pte Ltd kerap mengaku lupa ketika diminta bersaksi di persidangan. 

Hakim Ketua Majelis Yanto sempat menanyakan beberapa hal kepada Made Oka yang dihadirkan sebagai saksi untuk terdakwa Setya Novanto. Made diinterogasi soal data dirinya, yang meliputi, nama, alamat, hingga hal lainnya. 

"Ternyata Anda ingat ketika saya tanyakan alamat, nama dan pekerjaan anak-anak Anda, berarti ingatan Anda masih bagus," kata Hakim Yanto di Pengadilan Tipikor, Jalan Bungur Besar Raya, Kemayoran, Jakara Pusat, Rabu, 14 Maret 2018.


Made pun diminta jujur dalam memberikan kesaksian dalam kasus yang menyorot perhatian publik ini. "Saya harap keterangan Anda ada kemajuan dari sebelum-sebelumnya," ujar hakim Yanto. 

Selain Made Oka, jaksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) juga menghadirkan tersangka lainnya, Irvanto Hendra Pambudi Cahyo. Irvanto adalah keponakan Novanto yang sempat menjabat sebagai direktur PT Murakabi Sejahtera, perserta lelang KTP-el.

Made Oka dan Irvanto ditetapkan KPK sebagai tersangka di kasus KTP-el pada 28 Februari 2018. Made Oka sebagai pemilik PT Delta Energy diduga menggunakan perusahaannya untuk menampung uang Novanto. Melalui PT OEM Investment dan Biomorf Mauritius, dia menerima USD1,8 juta dan melalui rekening PT Delta Energy USD2 juta.

Baca: BPKP Temukan Kelebihan Pembayaran Proyek KTP-el

Sementara itu, Irvanto diduga ikut mengatur proses pengadaan KTP-el sejak awal dengan mengikutserakan perusahaannya, PT Murakabi Sejahtera. Dia bahkan beberapa kali ikut dalam pertemuan di ruko Fatmawati bersama konsorsium atau tim penyedia barang proyek KTP-el.

Tak hanya itu, Irvan juga mengetahui adanya permintaan fee 5 persen untuk mempermudah proses pengurusan anggaran proyek KTP-el. Irvan menerima uang sebanyak USD3,5 juta, yang akan diberikan kepada Novanto dalam kurun waktu 19 Januari sampai 19 Februari 2012.

Atas perbuatannya, Irvan dan Made Oka disangkakan melanggar Pasal 2 ayat 1 subsider Pasal 3 Undang-undang Tipikor Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tipikor juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.





(OGI)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id