Ilustrasi: Medcom.id
Ilustrasi: Medcom.id

Eks Aspidum Kejati DKI Didakwa Terima Suap Rp200 Juta

Nasional kasus suap
Fachri Audhia Hafiez • 04 November 2019 18:13
Jakarta: Mantan Asisten Pidana Umum (Aspidum) Kejaksaan Tinggi (Kejati) DKI Jakarta, Agus Winoto, didakwa menerima Rp200 juta dari pemilik Chaze Trade Ltd, Sendy Pericho, dan pengacaranya Alfin Suherman. Fulus itu terkait penanganan perkara.
 
"Telah melakukan atau turut serta melakukan menerima hadiah atau janji," kata jaksa penuntut umum (JPU) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Ariawan Agustiartono di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Jalan Bungur Raya, Kemayoran, Jakarta Pusat, Senin, 4 November 2019.
 
Menurut dia, suap itu diterima Agus melalui mantan Kepala Subseksi Penuntutan Kejati DKI Yadi Herdianto. Agus turut disebut melakukan kejahatannya bersama-sama Kepala Seksi Keamanan Negara dan Ketertiban Umum Kejati DKI Yuniar Sinar Pamungkas.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Suap diberikan untuk menggerakkan Agus meringankan rencana tuntutan (rentut) pidana perkara Hary Suwanda. Bos Forex asal Surabaya itu terdakwa kasus penipuan investasi yang sedang menjalani proses hukum di Pengadilan Negeri Jakarta Barat.
 
Kasus ini bermula saat Sendy, Hary, dan Raymond Rawung ingin mendirikan perusahaan Chaze Trade yang berlokasi di Jakarta Pusat pada Maret 2013. Pada Agustus 2013 perusahaan itu merugi karena Raymond terjerat masalah hukum.
 
Sendy melaporkan Hary dan Raymond ke Polda Metro Jaya atas tuduhan penggelapan dana operasional perusahaan senilai Rp2,2 miliar dan USD964,3. Hary dan Raymond kemudian ditetapkan sebagai tersangka.
 
Awal 2019, berkas keduanya dilimpahkan ke Kejati DKI. Alfin Suherman menemui Yuniar agar kasus berkas Hary dkk menjadi perhatian Agus Winoto.
 
Pada Februari 2019, berkas Hary dkk telah memenuhi unsur, tetapi tidak lengkap. Mengetahui hal itu, Sendy maupun Alfin mengguyur Arih Wira Suranta selaku jaksa peneliti sebanyak Rp150 juta agar berkas dinyatakan lengkap atau P-21.
 
Setelah dinyatakan P-21, Wakil Kepala Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta menyetujui rentut adalah dua tahun. Namun, Alfin menyatakan tuntutan itu masih terlalu tinggi.
 
Alfin menyatakan kepada Yuniar bila para pihak menyetujui adanya perdamaian. Yuniar kemudian dijanjikan Rp200 juta dari Sendy agar perkara Hary dkk cepat selesai.
 
Pada Juni 2019, Sendy melalui perantara Ruskian Suherman kemudian menyerahkan Rp200 juta dalam kantong plastik hitam itu kepada Yadi Herdianto. Yadi kemudian mengantarkan uang itu ke Agus dan Yuniar di Kejati DKI.
 
Agus mengeluarkan Rp50 juta dan menyimpannya ke dalam filling cabinet beserta surat perdamaian para pihak berperkara tersebut. Sementara itu, Rp150 juta dikantongi Agus.
 
Atas perbuatannya tersebut Agus didakwa telah melanggar Pasal 12 huruf a atau Pasal 11 Undang-Undang (UU) Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 Ayat 1 ke-1 KUHP.
 
Dalam perkara ini Sendy dan Alfin juga telah menjalani sidang dakwaan. Keduanya didakwa melanggar Pasal 5 Ayat (1) huruf a atau Pasal 13 UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 juncto Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP juncto Pasal 65 Ayat (1) KUHP.
 

(OGI)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif