Wakil Ketua KPK Alexander Marwata - Medcom.id/Sunnaholomi Halakrispen.
Wakil Ketua KPK Alexander Marwata - Medcom.id/Sunnaholomi Halakrispen.

KPK Simpan Salinan Buku Merah

Nasional Buku Merah KPK
Sunnaholomi Halakrispen • 01 November 2018 14:54
Jakarta: Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyimpan salinan catatan keuangan CV Sumber Laut Perkasa atau dikenal buku merah. Kisruh tentang sebagian isi buku itu yang hilang tak jadi persoalan.
 
Menurut Wakil Ketua KPK Alexander Marwata, KPK memiliki scanning dan salinan catatan buku aslinya. Warna buku pun disesuaikan dengan aslinya: merah. Semua salinan teregistrasi dengan tanda tangan pimpinan KPK.
 
"Buku merah itu kan dalam putusan hakim terlampir dalam berkas perkara," kata Alexander di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta Selatan, Kamis, 1 November 2018.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Alexander menyebut penyitaan buku merah oleh Polda Metro Jaya adalah perintah pengadilan. Pertimbangannya, penyidik Polda Metro sedang mengusut kasus dugaan upaya perintangan dan penghilangan atau perusakan barang bukti.
 
Dia memastikan penyitaan buku merah bukan persoalan. Sebab, apabila dibutuhkan, KPK masih bisa mengambilnya.
 
"Kalau kita ingin mengembangkan itu bisa juga barang bukti dan kita juga bisa minta kepada Polda kalau kita ada buka penyidikan atau penyeledik. Jadi tidak ada persoalan itu disita," pungkas dia.
 
(Baca juga:Polisi Sita Buku Merah)
 
Polda Metro Jaya menyita buku merah dari tangan KPK. Penyitaan buku merah itu terkait pengusutan perkara tindak pidana dengan mencegah penyidikan dan/atau pelanggaran saat proses penyidikan di Kuningan Persada, Jakarta Selatan, pada 7 April 2017.
 
Buku merah itu merupakan catatan milik Kumala Dewi Sumartono, staf keuangan CV Sumber Laut Perkasa, perusahaan milik Basuki Hariman. Buku itu juga mendata perputaran uang di internal perusahaan.
 
Dalam buku tercatat sejumlah pengeluaran yang salah satunya diduga untuk pejabat kepolisian. Buku itu mulanya disita KPK terkait suap yang dilakukan Basuki pada eks Hakim MK Patrialis Akbar.
 
Pada proses penyidikan diduga penyidik KPK saat itu Roland Ronaldy dan Harun merobek sejumlah halaman di buku merah yang terkait dengan penerimaan pada pejabat kepolisian.

 

(REN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi