Ilustrasi/Medcom.id
Ilustrasi/Medcom.id

Pengakuan Pemilik PT Indocertes, Atet Catut Nama Pejabat

Nasional tni penyekapan Penganiayaan Pengadilan
Medcom • 22 April 2022 18:25
Jakarta: Sidang lanjutan kasus dugaan penyekapan terhadap mantan Direktur Utama PT Indocertes Atet Handiyana Juliandri Sihombing berlanjut. Kali ini menghadirkan KS, saksi sekaligus pemilik tunggal PT Indocertes.
 
KS memberikan keterangan di depan pengadilan yang dipimpin Hakim Ketua Letkol Chk Rizky Gunturida, didampingi Mayor Chk Subiyanto, dan Kapten Chk Nurdin Rukka sebagai anggota, serta Oditur Letkol Chk Upen Jaya Supena. Sidang dilakukan di Pengadilan Militer II-08, Cakung, Jakarta Timur, Kamis, 21 April 2022.
 
Dalam kesaksiannya, KS menceritakan kronologi Atet bisa diangkat sebagai direktur di perusahaan alat utama sistem senjata (alutsista) tersebut. Pada awal Juli 2021, Atet berkenalan dengan KS dan mengaku sebagai anak angkat Siti Hardiyanti Rukmana alias Mbak Tutut, anak sulung Presiden ke-2 RI Soeharto. Atet juga mengaku sebagai keponakan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Pertemuan pertama, Atet langsung membuat KS terkejut. Atet mengeluarkan pistol. "Dia (Atet) bilang, saran Mbak Tutut kalau ketemu orang baru harus begini (keluarkan pistol). Jadi dia selalu bawa-bawa Mbak Tutut," kata KS.
 
Atet pun meyakinkan KS bahwa ia bisa membantu melancarkan bisnis PT Indocertes karena mengeklaim punya kedekatan hubungan dengan para pejabat TNI AD dan Kementerian Pertahanan (Kemhan). Bermula dari klaim-klaim inilah Atet kemudian mulai meminta jabatan di perusahaan dan diikuti permintaan sejumlah dana bernilai fantastis. 
 
"Biar meyakinkan, bisa enggak saya dikasih jabatan sementara jadi direktur utama?” ujar KS menirukan ucapan Atet. 
 
KS pun mengiyakan permintaan itu sembari menjelaskan bahwa meski mengangkat Atet sebagai direktur, ada akte pengikat yang menyebut bahwa pengangkatan direktur ini hanya formalitas. Direktur tidak punya hak apa pun atas perusahaan.
 
KS melanjutnya, sejak jadi direktur itulah Atet disebut mulai meminta uang puluhan miliar rupiah. "Atet itu minta uang sampai 18 kali selama 3 minggu. Nilainya kalau dari pencatatan bagian keuangan perusahaan mencapai Rp87 miliar,” ujar KS. 
 
Selama proses pemberian dana-dana itu, Atet minta penyerahan dalam bentuk tunai tanpa tanda terima. Kecurigaan KS mulai muncul ketika ia bertemu dengan mantan Dirsen Pussenif Brigjen AP. 
 
KS mengonfirmasi kepada Brigjen AP apa benar ada pertemuan Atet dengan dirsen lama dan baru. Sebab, pengakuan Atet ke KS bahwa ia ketemu para dirsen. AP mengaku tidak pernah bertemu dan mengenal Ater.
 
  • Halaman :
  • 1
  • 2
Read All



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif