Eks Komisioner KPU Ferry Kurnia Rizkiansyah. Foto: Medcom.id/Zakaria Habib.
Eks Komisioner KPU Ferry Kurnia Rizkiansyah. Foto: Medcom.id/Zakaria Habib.

Eks Komisioner Akui Banyak Godaan di KPU

Nasional kpu
Zakaria Habib • 11 Januari 2020 15:20
Jakarta: Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) periode 2012-2017 Ferry Kurnia Rizkiansyah prihatin atas tertangkaptangannya Komisioner KPU periode 2017-2022 Wahyu Setiawan. Kasus Wahyu menjadi bukti kuatnya godaan para oknum dalam mengganggu independensi penyelenggara pemilu.
 
"Pasti banyak. Bahwa goda-godaan itu seiring orang yang ingin berkuasa, dengan cara-cara instan," kata Ferry dalam sebuah diskusi di Jakarta, Sabtu, 11 Januari 2020.
 
Ferry mendukung ketegasan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam menyelesaikan persoalan tersebut hingga ke akarnya dan tanpa pandang bulu. "Ini kesempatan untuk mengembalikan kepercayaan publik," ungkap dia.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Menurut Ferry, penyelenggara pemilu seharusnya benar-benar menjaga prinsip dan integritas. Bukan hanya di tingkat pusat, tapi juga di tingkat daerah. Sebab godaan kepada KPU akan selalu ada.
 
"Ruang itu akan muncul pada KPU, tinggal bagaimana pagar-pagar KPU. Bisa saja masuk ke unsur kesekretariatan. Jadi memang harus dikuatkan," tutur Ferry.
 
Wahyu ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK pada Kamis, 9 Januari 2020. Wahyu diduga menerima suap terkait penetapan anggota DPR terpilih 2019-2024.
 
Suap itu diberikan oleh kader PDIP Harun Masiku. Tujuannya, agar Wahyu memuluskan jalan Harun menjadi anggota DPR daerah pemilihan Sumatera Selatan I menggantikan caleg DPR terpilih Fraksi PDIP Nazarudin Kiemas yang meninggal dunia.
 
Untuk memenuhi permintaan Harus, Wahyu meminta dana operasional sebesar Rp900 juta. Namun dari jumlah tersebut, Wahyu hanya menerima Rp600 juta.
 
Suap itu diduga diterima Wahyu dalam dua tahap. Pertama pada pertengahan Desember 2019. Saat itu, Wahyu menerima uang dari orang kepercayaannya, Agustiani Tio Fridelina, Rp200 juta di salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta Selatan.
 
Uang ini didapat Agustiani dari Saeful, pihak swasta, namun KPK masih mendalami dari siapa sumber uang Rp200 juta itu.
 
Wahyu diduga kembali menerima suap Rp400 juta pada akhir Desember 2019. Uang tersebut masih ada di tangan Agustiani. Agustiani menerima uang itu dari Harun yang diberikan lewat Saeful.
 

(HUS)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif