Ilustrasi. Medcom.id
Ilustrasi. Medcom.id

Calo Aborsi Ilegal di Percetakan Negara Untung Besar

Nasional aborsi ilegal
Siti Yona Hukmana • 26 September 2020 14:25
Jakarta: Calo aborsi ilegal di Jalan Percetakan Negara 3, Cempaka Putih, Jakarta Pusat disebut mendapat keuntungan lebih besar dari pemilik klinik dan dokter aborsi. Calo bisa mendapat komisi 50 persen dari satu pasien.
 
"Jadi untung calo ini lebih besar dibanding tenaga support tim dan dokter," kata Wakil Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya AKBP Jean Calvijn Simanjuntak saat dikonfirmasi di Jakarta, Sabtu, 26 September 2020.
 
Calvijn mengatakan 50 persen lainnya dibagikan kepada pemilik klinik aborsi, dokter, perawat, dan resepsionis. Pengantar pasien mendapat uang sebesar Rp150-250 ribu per hari.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Menurut Calvijn, keuntungan 50 persen yang diperoleh para calo itu membuat mereka maksimal mempromosikan klinik aborsi tersebut. Salah satunya dengan memasarkan lewat website klinikaborsiresmi.com.
 
"Web itu dibuat oleh calo. Kami menemukan fakta bahwa dalam praktik aborsi, peran calo sangat besar," ungkap Calvijn.
 
 

Polisi tengah berkoordinasi dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) untuk memberantas calo aborsi ilegal. Polisi tidak ingin modus serupa terjadi kembali.
 
Baca: Polisi dan Kominfo Razia Iklan Aborsi Ilegal di Dunia Maya
 
Polda Metro Jaya menangkap 10 tersangka saat penggerebekan klinik aborsi ilegal di Jalan Percetakan Negara 3, Cempaka Putih, Jakarta Pusat pada Rabu, 9 September 2020. Mereka berinisial LA, 52; DK, 38; NA, 30; MM, 38; YA, 51; RA, 52; LL, 50, ED, 28; SM, 62, dan RS, 25. RS merupakan pasien aborsi.
 
Klinik ini disebut sudah melayani 32.760 pasien sejak 2017. Para pelaku mendapatkan keuntungan hingga Rp5 juta per hari dengan melayani sampai 10 pasien.
 
Tersangka dijerat Pasal 346 KUHP dan atau Pasal 348 ayat 1 KUHP dan atau Pasal 194 juncto Pasal 75 Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan. Mereka terancam hukuman penjara paling lama 10 tahun dan denda paling banyak Rp1 miliar.
 
(AZF)
  • Halaman :
  • 1
  • 2
Read All



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif