Dwi Ria Latifa (kiri) dan Akbar Hadi----MI/Ramdani
Dwi Ria Latifa (kiri) dan Akbar Hadi----MI/Ramdani

Banyak Permainan, Remisi dan Pembebasan Bersyarat Bisa Dicek Online

Nasional pemasyarakatan
Githa Farahdina • 26 September 2015 13:39
medcom.id, Jakarta: Permainan dan kecurangan kerap terjadi di lembaga pemasyarakatan di tingkat pusat maupun daerah. Pungutan liar, peredaran narkoba dan lainnya, menjadi persoalan yang tak kunjung usai.
 
Tak jarang, mereka yang mendapatkan remisi dipersulit petugas. Urusan akan lancar ketika terpidana memberikan uang pelicin. Itulah yang diungkap mantan narapidana Lapas Gorontalo, Bona Paputungan.
 
"Saya dihukum dalam kasus KDRT, divonis 11 bulan, tapi saya hanya harus menjalankan tujuh bulan (karena mendapat remisi). Agar bisa keluar tujuh bulan itu, saya diminta membayar Rp1 juta," kata pencipta lagu Andai Ku Gayus Tambunan ini di Warung Daun, Jalan Cikini Raya, Jakarta Pusat, Sabtu (26/9/2015).

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Juru Bicara Dirjen Pemasyarakatan Kemenkumham Akbar Hadi mengakui hal ini. Di banyak lapas, kata dia, banyak kecurangan sering terjadi. Namun, Kemenkumham sudah mulai memperbaiki sistem. Menggunakan sistem online, diharapkan kecurangan bisa diminimalisasi.
 
"Kita sudah membangun sistem database (agar masyarakat bisa melihat langsung), sekarang sedang dikembangkan. Di sana kita berharap pelayanan masyarakat bisa berbasis IT. Oktober akan launching remisi online dan pembebasan bersyarat online," terang Akbar.
 
"Kalau selama ini ada permainan, selama ini napi tidak tahu dapat remisi atau tidak, harus bayar atau tidak. Kalau online, nanti terpantau dari kantor pusat, dari meja menteri," imbuhnya.
 
(TII)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif