Pembunuhan di Luar Hukum di Papua tak Terkait Politik

Muhammad Al Hasan 02 Juli 2018 15:29 WIB
hak asasi manusia
Pembunuhan di Luar Hukum di Papua tak Terkait Politik
Rilis Amnesty International terkait pembunuhan di luar hukum - Medcom.id/Muhammad Al Hasan
Jakarta: Direktur Eksekutif Amnesty Internasional, Usman Hamid, mengungkapkan mayoritas pembunuhan di luar hukum yang terjadi di Papua tak berhubungan dengan politik. Pembunuhan justru berhubungan dengan hak-hak masyarakat. 

"Pembunuhan di luar hukum dilakukan pada saat perkumpulan-perkumpulan masyarakat, gangguan ketertiban umum, kriminalitas yang bersifat nonpolitik, dan aksi damai menuntut kenaikan upah. Tidak terkait dengan seruan kemerdekaan atau referendum di Papua," ujar Usman Hamid dalam pemaparannya di Hotel Alila, Pecenongan, Jakarta Pusat, Senin, 2 Juli 2018. 

Amnesty Internasional mencatat,  dari 2010 hingga 2018, terjadi 41 kasus pembunuhan di luar hukum yang tidak terkait dengan aktivitas politik. Dari kasus itu 56 korban tewas. 


Usman menyebut, dalam melakukan aksinya, aparat seringkali tanpa peringatan dan tanpa tedeng aling-aling menembak yang mengakibatkan korban tewas.

(Baca juga: Jokowi dinilai Gagal Tuntaskan Kasus HAM di Papua)

Hal ini, kata dia, dibuktikan dari korban tewas. Tak hanya pria dewasa yang menjadi korban, perempuan dan anak-anak juga. Amnesty International mencatat, selama 2010-2018, tujuh perempuan dan tiga anak di bawah usia 10 tahun menjadi korban. 

Usman menilai yang dilakukan aparat justru bukan menambah ketenangan. Namun, menambah rasa kebencian terhadap negara.

Karena itu, Amnesty international menuntut pemerintah, khususnya Presiden Joko Widodo, segera mengambil sikap dalam penanganan HAM di Papua. Khususnya, terhadap unlawful killing atau pembunuhan di luar hukum.

"Pihak berwenang harus memastikan bahwa semua pembunuhan di luar hukum yang diduga dilakukan aparat, diselidiki secara cepat, independen, tidak memihak, dan efektif. Kami menagih akuntabilitas otoritas di Indonesia terhadap unlawful killing," tukas Usman.





(REN)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id