Komisi IV Minta Perwakilan SKIPM di Bandara Tetap Dioperasikan

Anggi Tondi Martaon 07 Mei 2018 12:24 WIB
berita dpr
Komisi IV Minta Perwakilan SKIPM di Bandara Tetap Dioperasikan
Ketua Komisi IV DPR RI Edhy Prabowo (Foto:Dok)
Jakarta: Komisi IV DPR RI mengapresiasi langkah Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan menyiapkan 9,7 hektare (ha) lahan untuk pembangunan kantor baru Stasiun Karantina Ikan Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (SKIPM) Kelas II Palembang. 

Sayangnya, lahan yang terletak di Jalan Soekarno Hatta itu cukup jauh dari kawasan Bandara Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II Palembang.

Ketua Komisi IV DPR RI Edhy Prabowo meminta agar SKIPM tetap memiliki kantor atau stasiun pengawasan lalu lintas pengiriman ikan yang berada di kawasan Bandara SMB II Palembang. Pihaknya meminta SKIPM di kawasan Bandara SMB II yang ada saat ini tetap difungsikan, meski sudah memiliki kantor baru nantinya.


“Pemerintah Sumsel telah menyiapkan lahan seluas 9,7 ha yang rencananya akan dibangun kantor pusat SKIPM di Jalan Soekarno Hatta, Palembang. Itu ide yang bagus, tetapi yang harus diingat adalah jangan sampai SKIPM di Bandara SMB II tidak lagi difungsikan. Sebab, konsep karantina adalah pelayanan untuk masyarakat, juga sebagai penghukuman jika ada pelanggaran,” kata Edhy dalam keterangan tertulis, Senin, 7 Mei 2018.

Politikus Partai Gerindra itu menyerahkan sepenuhnya kepada pihak berwenang untuk menentukan letak SKIPM di Bandara SMB II itu. Menurutnya, keberadaan SKIPM di bandara merupakan hal yang penting.

"Bagaimana pun juga, tidak banyak masyarakat yang tahu, jika membawa ikan di bandara harus masuk ke karantina terlebih dahulu. Maka itu, harus ada pelayanan di bandara,” ungkap dia. 

Sementara itu, Kepala Badan Karatina Ikan, Pengendalian Mutu dan Kemanan Hasil Perikanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan Rina menambahkan, pihaknya sangat berterimah kasih kepada Gubernur Sumsel yang sudah menyiapkan lahan untuk pembangunan SKIPM Sumsel.

Ia juga menjelaskan, pada tahun 2017, nilai ekspor yang berasal dari Sumsel sebesar 12,8 juta dolar AS, dengan komoditas utama udang (66,8 persen), paha kodok (18,4 persen), dan sidat (12,4 persen) dengan negara tujuan utama Jepang (43,0 persen), Uni Eropa (20,3 persen) dan Amerika Serikat (18,3 persen).

Sedangkan pada 2018 (periode Januari-Februari), ekspor Provinsi Sumatera Selatan mencapai 1,83 juta dolar AS, atau meningkat 64,3 persen dengan volume 450 ton atau meningkat 87,6 persen.

"Dibandingkan pada periode sebelumnya yakni tahun 2017, dengan komoditas utama udang, sidat dan paha kodok sangat meningkat. Ini menjadi faktor peningkat ekspor di Sumsel,” kata dia.



(ROS)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id