Sesepuh Kampung Gamblok, Desa Cikole, Kecamatan Lembang, menggelar ruwatan. (MI/Depi Gunawan)
Sesepuh Kampung Gamblok, Desa Cikole, Kecamatan Lembang, menggelar ruwatan. (MI/Depi Gunawan)

Warga Kaki Tangkuban Parahu Gelar Tolak Bala

Nasional erupsi gunung
Depi Gunawan • 29 Juli 2019 14:52
Lembang: Warga Kampung Gamblok, Desa Cikole, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, menggelar tradisi ruwatan dan ritual tolak bala, Senin, 29 Juli 2019. Ritual dilakukan pascaerupsi Gunung Tangkuban Parahu pada Jumat, 26 Juli 2019.
 
Ritual dimulai dengan pemotongan hewan kambing hitam dan dilanjutkan membaca doa yang diikuti tokoh masyarakat, tokoh adat, tokoh agama, dan masyarakat sekitar. Kemudian diakhiri dengan tarawangsa, buhun dan seni terbang.Dalam ritual ini, warga juga membawa perbekalan nasi dan lauk-pauk untuk disantap bersama.
 
Salah seorang tokoh masyarakat Maman Suherman menerangkan, ruwatan dan ritual tolak bala rutin diadakan setiap tahun, setiap bulan hapit dalam kalender sunda. Namun penyelenggaraan tahun ini sedikit berbeda karena diadakan pascaerupsi Tangkuban Parahu.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Ruwatan sudah dirancang sejak lama dan diselenggarakan setiap tahun, sejak 1960. Nah, kebetulan hari Jumat lalu gunung erupsi," ujarnya.
 
Menurut cucu kuncen Gunung Tangkuban Parahu ini, digelarnya tradisi tahunan untuk menjauhkan warga dari bahaya dan bencana. Dia melanjutkan tema ritual yakni repeh, rapih, merenah dan tumaninah.
 
Pemangku Adat Gunung Tangkuban Parahu, Budi Raharja, menjelaskan puncak tradisi ngaruwat gunung rutin diadakan pada 10 Muharram di Kawah Ratu Tangkuban Parahu. Tujuannya adalah mensyukuri nikmat yang telah diberikan dan tolak bala.
 
"Ini sebagai tradisi leluhur dalam menjaga alam serta menghormati Ibu Ratu dan Eyang Sangkuruiang yang masih dipercayai sebagai legenda hidup dalam lingkungan masyarakat sekitar gunung," ungkapnya.
 
Budi menjelaskan Kampung Gamblok berjarak empat kilometer dari puncak Kawah Ratu. Dia mengharapkan semua pemangku kebijakan lebih terbuka menginformasikan kondisi Gunung Tangkuban Parahu ke masyarakat sekitar.
 
"Sebaiknya tidak menutup-nutupi, soalnya hari Jumat kemarin adalah kejadian yang sangat fatal dan baru terjadi saat masyarakat dan pengunjung ada di sekitar kawah, tanpa ada peringatan dini," tuturnya.
 
Dia mengaku warga Kampung Gamblok sebelumnya sudah mengetahui Gunung Tangkuban Parahu akan bergejolak. Sehingga tidak ada satu pun warga yang mendekati kawah.
 
"Alhamdulillah, walaupun jarak dari kawah ke perkampungan cukup dekat, tapi abu vulkanik tidak sampai ke sini karena kita selalu melestarikan kearifan lokal," jelasnya.
 
(LDS)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif