Kabid Humas Polda Sulsel, Kombes Pol Dicky Sondani saat merilis kasus ujaran kebencian di Mapolda Sulsel, Kamis, 20 Juni 2019. Medcom.id/Muhammad Syawaluddin.
Kabid Humas Polda Sulsel, Kombes Pol Dicky Sondani saat merilis kasus ujaran kebencian di Mapolda Sulsel, Kamis, 20 Juni 2019. Medcom.id/Muhammad Syawaluddin.

Warga Makassar Ditangkap karena Memprovokasi di Medsos

Nasional ujaran kebencian
Muhammad Syawaluddin • 20 Juni 2019 17:18
Makassar: Faizal Karaeng Lomba, 32, ditangkap Tim Ciber Direktorat Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Kepolisian Daerah (Polda) Sulawesi Selatan lantaran melakukan ujaran kebencian di media sosial yang mencoba memprovokasi masyarakat.
 
Kabid Humas Polda Sulawesi Selatan, Kombes Dicky Sondani mengatakan pria tersebut ditangkap di Jalan Gunung Bawakaraeng setelah Faizal mempostingdi media sosial pada 25 Mei 2019 lalu atau beberapa hari setelah demo Pemilu di Jakarta.
 
"Dia ditangkap pada Selasa 18 Juni 2019 oleh tim Ditreskrimsus Polda Sulsel di Jalan Gunung Bawakaraeng setelah melakukan penyebaran ujaran kebencian di media sosial," kata Dicky di Mapolda Sulawesi Selatan, Kamis, 20 Mei 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dicky menjelaskan Faizal bekerja sebagai kurir perusahaan komputer di Information Technology Service Center. Dia ditangkap karena dianggap telah memprovokasi masyarakat dan menyebut luka yang dialami polisi saat mengamankan aksi 21 dan 22 Mei 2019 lalu itu terlalu didramatisir.
 
Dalam tulisan dan foto yang Faizal unggah, dia menulis bahwa luka kecil yang dialami polisi saat mengamankan aksi terlalu didramatisir, luka itu bukan menandakan aparat kepolisian lebih jihad melainkan memang menjadi tugas kepolisian mengamankan situasi.
 
Faizal dalam postingannya juga mengatakan tugas polisi mengamankan situasi yang ada di negara ini tidak gratis, pihak kepolisian menurut Faizal digaji. Bahkan, ketika meninggal polisi juga mendapatkan tunjangan dari negara.
 
'Pasang otakmu di kepala bukan di etalase display tolol!!!. Lebih jihad mana dengan anak yang dibunuh demi mencari keadilan??,' kutipan tersebut menurut Dicky sebagai salah satu cara untuk memprovokasi masyarakat dan menyulut emosi.
 
"Dia tidak suka dengan aparat kepolisian yang menjaga pengamanan di Jakarta. Dia posting ada salah satu foto anggota polisi yang luka. Itu lukanya itu dianggap biasa saja tidak perlu disebar luaskan. Jadi sengaja dia lakukan provokasi ujaran kebencian di media sosial," jelas Dicky.
 
Dalam kasus itu Faizal Karaeng Lomba dituduhkan melanggar UU ITE nomor 19 tahun 2016 pasal 45 ayat A dengan ancaman hukuman paling lama 6 tahun dan denda paling banyak Rp1 miliar.
 

(DEN)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif