Sejumlah warganet melakukan aksi Jogja Damai 9119 di Halaman Kantor Gubernur DI Yogyakarta. (Foto: ANTARA/Andreas Fitri Atmoko)
Sejumlah warganet melakukan aksi Jogja Damai 9119 di Halaman Kantor Gubernur DI Yogyakarta. (Foto: ANTARA/Andreas Fitri Atmoko)

Sekolah Diminta Proaktif Cegah Siswa Berperilaku Klitih

Nasional penganiayaan
Patricia Vicka • 15 Januari 2020 14:50
Yogyakarta: Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mendorong sekolah menekan tindakan klitih atau aktivitas tidak jelas yang cenderung negatif. Caranya, membina kelompok pelajar yang berpotensi melakukan klitih.
 
Pelaksana tugas Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) DIY Bambang Wisnu Handoyo mengungkapkan, klitih umumnya dilatarbelakangi permusuhan kelompok antarsekolah. Klitih didominasi tindakan kekerasan bahkan perampasan barang berharga milik korban sasaran.
 
"Sekolah harus bisa antisipasi itu. Geng siswa yang kelihatan berpotensi melakukan klitih harus segera dibina. Lingkaran balas dendam harus diputus," tegas dia, di Yogyakarta, Rabu 15 Januari 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Tak hanya selama kegiatan belajar, sekolah juga diminta mengawasi para pelajarnya saat beraktivitas di luar sekolah. Misalnya, memetakan tempat berkumpul para siswa hingga memeriksa barang bawaan.
 
"Mereka kalau kumpul di mana dan kegiatannya apa? Merencanakan (klitih) biasanya di situ. Dicek tasnya karena banyak juga pelajar yang sembunyikan senjata tajam," imbuh dia.
 
Lebih lanjut, kata Bambang, pihaknya berencana mengumpulkan guru konseling guna mencari solusi menekan klitih. Sekolah juga diimbau meningkatkan partisipasi orang tua dalam pengawasan anak.
 
Sementara itu, Sosiolog Kriminalitas Universitas Gadjah Mada Suprapto mengatakan, ekstrakurikuler seperti kegiatan pentas seni dan budaya dapat menjadi alternatif menyalurkan waktu luang siswa ke hal-hal positif.
 
"Siswa harus lebih diajak untuk ikut ekskul. Kalau perlu diwajibkan. Jadi energi mereka yang meluap-luap dan sedang butuh pengakuan bisa tersalurkan," kata Suprapto.
 
Selain itu, ia menilai perlu dibentuk sebuah kelompok kerja untuk menangani perilaku klitih. Pokja difokuskan pada penanganan anak-anak yang menjadi korban untuk melapor dan meminta perlindungan.
 
“Jika keluarga ini tidak mampu melakukannya, Pokja bisa membantu. Laporkan saja dan diselesaikan secara hukum sehingga lingkaran setan itu bisa diputus,” pungkasnya.

 

(MEL)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif