Puluhan difabel melakukan aksi di depan Balai Wyata Guna, Jalan Pajajaran, Kota Bandung, menolak Permensos Nomor 18 Tahun 2018. (Foto: Medcom.id/Roni)
Puluhan difabel melakukan aksi di depan Balai Wyata Guna, Jalan Pajajaran, Kota Bandung, menolak Permensos Nomor 18 Tahun 2018. (Foto: Medcom.id/Roni)

Peralihan Status Panti demi Optimalisasi Rehabilitasi Difabel

Nasional penyandang disabilitas
Roni Kurniawan • 16 Januari 2020 12:17
Bandung: Kepala Balai Wyata Guna Bandung, Sudarsono, menegaskan, peralihan fungsional panti menjadi balai guna optimalisasi rehabilitasi bagi penyandang disabilitas. Perubahan status dari panti menjadi balai agar para difabel lebih berdaya.
 
"Kita ingin balai rehabilitasi sosial ini berkontribusi secara progresif. Jadi pijakan kaum disabilitas agar dapat mengembangkan fungsi dan kapabilitas sosialnya sehingga bisa berkiprah di masyarakat,” ujarnya, di Balai Wyata Guna Bandung, Jawa Barat, Kamis, 16 Januari 2020.
 
Ia mengatakan, batas waktu bagi para difabel sebagai penerima manfaat menjadi salah satu poin revitalisasi program rehabilitasi. Hal itu bertujuan agar para difabel dapat berkumpul kembali dengan keluarga setelah punya bekal keterampilan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Ini yang kita sebut dengan proses inklusi. Kita ingin saudara-saudara kita diterima di masyarakat, seperti yang lainnya," beber dia.
 
Selama di balai, para difabel pun dipastikan mendapatkan pelatihan keterampilan dan layanan yang holistik, sistematis dan terstandar. Sehingga ketika kembali ke masyarakat mereka diharapkan sudah mandiri.
 
"Jadi mereka (tuna netra) tidak hanya saja pandai pijat, tapi diharapkan ada keahlian lain. Misalnya, mengadakan pelatihan barista bagi teman-teman disabilitas," jelas Sudarsono.
 
Ia menambahkan balai hanya menjalankan aturan dari pemerintah pusat berdasarkan Permensos Nomor 18 Tahun 2018 tentang fungsional tempat rehabilitasi, salah satu poinnya dari panti menjadi balai.
 
"Tentu kita menjalankan aturan yang berlaku. Kitka sudah sosialisasikan sejak tahun kemarin," pungkasnya.
 
Sementara itu, hingga hari ini ini puluhan difabel masih bertahan di tenda yang mereka dirikan di depan Balai Wyata Guna, Jalan Pajajaran, Kota Bandung. Mereka menolak Permensos nomor 18 tahun 2018, dan ingin mengembalikan Wyata Guna menjadi panti rehabilitasi bagi difabel.

 

(MEL)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif