Hidup tak melulu hanya untuk bekerja. Sebagai makhluk sosial, tentara juga butuh berinteraksi dengan keluarga (Foto:Dok.Metro TV)
Hidup tak melulu hanya untuk bekerja. Sebagai makhluk sosial, tentara juga butuh berinteraksi dengan keluarga (Foto:Dok.Metro TV)

Sinyal Makin Kuat, Tentara di NTT Bahagia Melepas Rindu dengan Keluarga

Nasional Berita Kominfo BAKTI
Gervin Nathaniel Purba • 28 Oktober 2020 20:18
Jakarta: Profesi tentara merupakan cita-cita bagi sebagian orang. Tak hanya pria yang boleh menjadi tentara. Perempuan pun bisa. Kalih Wulaningsih adalah satu di antara perempuan itu.
 
Kalih Wulaningsih membuktikan kemampuan perempuan tak bisa dipandang sebelah mata. Perempuan asal Yogyakarta ini kini bertugas sebagai Pengatur Lalu Lintas Udara (PLLU) di Landasan Udara (Lanud) El Tari, Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT).
 
Sejak masih duduk di bangku SMP, Kalih telah bercita-cita menjadi tentara. Di mata Kalih saat itu, sosok tentara terlihat sangat keren. Kalih memang tak asing dengan dunia tentara. Keluarga besarnya ada yang berprofesi tentara.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Keluarga besar saya ada yang menjadi tentara. Salah satunya, kakak saya. Saat saya masih kelas 4 SD, kakak sudah menjadi tentara," ujar Bintara PLLU Disops Lanud EL Tari, Serda Kalih Wulaningsih, berbicara di program BAKTI, Metro TV.
 
Kalih mengenang, saat itu sang kakak sering mengajak teman-temannya sesama tentara berkunjung ke rumah. Melihat kakak dan teman-temannya berseragam tentara, Kalih membulatkan tekad ingin menjadi seperti mereka.
 
"Kebetulan wanita angkatan udara (WARA), suka main ke rumah kalau lagi mendapat IB (izin bermalam). Dari situ timbul keinginan saya ingin juga menjadi WARA, ingin terjun ke dunia militer," ujar Kalih.
 
Semesta mendukung impian Kalih. Berkat ketekunan dan tekad pantang menyerah, Kalih berhasil masuk ke PLLU. Seorang PLLU bertugas untuk mengatur lalu lintas pesawat. Mulai dari proses pesawat izin lepas landas hingga mendarat.
 
"Saya mendapatkan penempatan di Kupang untuk mengatur lalu lintas pesawat udara," katanya.
 
Sinyal Makin Kuat, Tentara di NTT Bahagia Melepas Rindu dengan Keluarga
 
Dalam keseharian, Kalih bertugas menggunakan seragam tentara. Dia juga diberi pelatihan menembak, baris-berbaris, dan berbagai kegiatan lainnya.
 
Meskipun pekerjaannya identik dengan laki-laki, Kalih mampu membuktikan diri layak mengemban tugas. Apalagi, di lingkungan internal tak ada pembedaan gender. Perempuan dan laki-laki memiliki derajat setara.
 
"Perempuan dan laki-laki sama saja. Saat apel, kami sama-sama membawa senjata, sama-sama menembak, sama-sama bawa ransel. Begitu juga ketika terjun ke lapangan. Semua sama," tuturnya.
 
Kinerja Kalih selama bertugas menuai respons positif dari Komandan Pangkalan TNI AU Lanud El Tari Kolonel PNB Bambang Juniar D.
 
"Serda Kalih sosok rendah hati, bersahabat, dan pekerja keras. Ia siang-malam melayani pesawat. Tugasnya menangani pesawat yang akan ke Lanud El Tari. Begitu juga saat pesawat di ground, ditangani Serda Kalih," ujar Bambang.
 
Hidup tak melulu hanya untuk bekerja. Sebagai makhluk sosial, Kalih juga butuh berinteraksi dengan keluarga. Jarak yang jauh tak menjadi penghalang. Kalih setiap malam meluangkan waktu menghubungi ibunda melalui panggilan video (video call).
 
Kalih bersyukur saat ini sinyal di Kupang jauh lebih baik dibandingkan dulu saat ia baru pertama kali bertugas di sana.
 
"Sinyal sekarang lebih baik ketimbang pertama kali tiba di sini. Waktu itu, susah sinyal. Telepon susah banget. Dua tahun belakangan, sinyal bagus dan mendukung pekerjaan saya," kata Kalih.
 
Sinyal Makin Kuat, Tentara di NTT Bahagia Melepas Rindu dengan Keluarga
 
Kepala Bidang Layanan e-Goverment Kominfo Kota Kupang Wildrian Otta mengatakan, proyek pembangunan Palapa Ring bermanfaat untuk memeratakan kualitas jaringan internet ke seluruh wilayah Indonesia.
 
Hingga saat ini, berbagai daerah sudah merasakan manfaatnya. "Harga internet lebih terjangkau karena biaya infrastruktur sudah diselesaikan pemerintah pusat," kata Wildrian.
 
Palapa Ring merupakan proyek infrastruktur telekomunikasi berupa pembangunan serat optik di seluruh Indonesia sepanjang 36 ribu kilometer. Proyek itu terdiri atas tujuh lingkar kecil serat optik (untuk wilayah Sumatera, Jawa, Kalimantan, Nusa Tenggara, Papua, Sulawesi, dan Maluku), serta satu backhaul untuk menghubungkan semuanya.
 
Untuk memperkuat akses telekomunikasi, BAKTI Kominfo bersinergi dengan operator seluler. BAKTI Kominfo melengkapi infrastruktur Telekomunikasi yang telah dibangun oleh penyedia jasa telekomunikasi di daerah 3T (tertinggal, terpencil dan terluar), dan perbatasan Indonesia.
 
Di NTT hingga Desember 2019, BAKTI telah menyediakan akses internet di 667 lokasi, yaitu di sekolah, puskesmas, BLK, Pos Lintas Batas Negara (PLBN).
 
BAKTI juga telah membangun 115 base transceiver station (BTS) di NTT. Seluruh BTS tersebut dan pembangunan baru pada tahun 2020, akan dimigrasi dan menggunakan teknologi 4G. Juga terdapat Network Operation Center (NOC) Palapa Ring (backbone fiber optic) di lima wilayah, yaitu Waingapu, Sabu, Baa, Kupang, dan Alor.
 
(ROS)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif