Area ladang jagung di sawah tadah hujan. Medcom.id/Rhobi Shani
Area ladang jagung di sawah tadah hujan. Medcom.id/Rhobi Shani

Petani Jepara Menganggur karena Kemarau

Nasional kemarau dan kekeringan krisis air bersih
Rhobi Shani • 07 Agustus 2019 14:39
Jepara: Petani di sejumlah wilayah di Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, menganggur. Mereka terpaksa menganggur lantaran kesulitan mendapatkan air dan membuat biaya produksi tinggi jika memaksakan menanam padi.
 
Petani telah selesai menanam padi pada masa tanam kedua. Namun, saat ini, petani kesulitan mendapatkan air untuk bertanam musim berikutnya.
 
Nur Hamid,petani warga Desa Batukali, Kalinyamata, mengungkap lahan pertanian di desanya merupakan sawah tadah hujan. Tiap kali datang musim kemarau dipastikan kesulitan mendapatkan air.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Saya ini tergolong nekat, mau menanam jagung, padahal sulit air," ujar Hamid, Pada Rabu, 7 Agustus 2019.
 
Untuk mengolah sawah setengah hektare miliknya, Hamid harus mengeluarkan biaya banyak. Di antaranya untuk menyewa mesin pompa air selama empat hari.
 
"Tanaman yang sudah ditanam mau tidak mau harus diairi kalau tidak mati. Akhirnya terpaksa pakai mesin pompa dari sumur bor,” ungkap Hamid.
 
Biaya sewa mesin pompa air semalam beserta kebutuhan bahan bakar sekitar Rp400 ribu. Butuuh empat hari untuk mengairi lahan seluas setengah hektare. Belum lagi biaya penjaga mesin Rp25 ribu semalam.
 
“Biar tidak hilang ya, dijaga. Biaya penjaga Rp25 ribu semalam,” kata Hamid.
 
Kebutuhan air tersebut masih akan berlangsung hingga pohon jagung kuat atau sudah berumur lebih dari satu bulan. Selanjutnya, pengairan dilakukan saat mulai berbunga dan menjaga agar tak layu.
 
"Kebutuhan air itu saat pengolahan pertama, terus tiap sepuluh hari sekali untuk benih sampai tumbuh dan kuat," urai Hamid.
 
Setengah hektar sawah milik Hamid menghasilkan Rp10 juta dari hasil penjualan sistem tebas jagung. Sedangkan modal benih sekitar Rp1,5 juta.
 
"Itu kalau hasilnya bagus bisa Rp 10 juta. Tapi kan modalnya mahal. Makanya, saya ini nekat. Petani lain lebih dari 80 persen menganggur, karena air sulit," pungkas Hamid.
 

(SUR)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif