Aktivitas melukis di ruang publik yang dilakukan seniman di area titik nol kilometer Yogyakarta. Medcom.id/Ahmad mustaqim
Aktivitas melukis di ruang publik yang dilakukan seniman di area titik nol kilometer Yogyakarta. Medcom.id/Ahmad mustaqim

Semi Pedestrian Malioboro Jadi Ajang Hidupkan Melukis di Ruang Publik

Nasional yogyakarta
Ahmad Mustaqim • 10 Desember 2019 18:22
Yogyakarta: Hiruk pikuk kendaraan bermotor tak terlihat di kawasan wisata Malioboro Yogyakarta, Selasa, 10 Desember. Namun, kesibukan lain tampak di sekitar Malioboro hingga titik nol kilometer.
 
Ya, hari Selasa Wage merupakan hari tanpa kendaraan bermotor di kawasan wisata Malioboro. Hanya moda transportasi, seperti bus Trans Jogja, becak, hingga sepeda, yang dibolehkan mobilitas di momen itu.
 
Di sisi lain, kesibukan di kawasan Malioboro jadi hal baru. Ada ratusan orang menghadap kain kanvas dan memegang kuas. Mereka menggoreskan tinta sesuai warna dari obyek yang diinginkan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Melukis ini adalah bentuk 'Sambang-sambung Malioboro. Ada 122 pelukis hang membuat karya on the spot (di ruang publik)," kata penanggung jawab acara, Godod Sutejo di kawasan titik nol kilometer Yogyakarta.
 
Kata Godod, melukis on the spot itu perwujudan penghormatan terhadap seorang pelukis bernama Hendro Purwoko. Ia mengatakan penghormatan itu diberikan karena Hendro hendak memasuki masa pensiun dari profesinya, dosen seni rupa. Jelang masa pensiunnya, kata Godod, Hendro juga akan menggelar pameran tunggal di Bentara Budaya Yogyakarta, Selasa malam, 10 Desember 2019.
 
"Jadi banyak pelukis yang memberi penghormatan. Tidak hanya pelukis dari Jogja, ada juga dari Banyuwangi, Malang, Jakarta, hingga Surabaya," ucapnya.
 
Bagi Godod, melukis on the spot bukan sekadar mengisi waktu. Lebih dari itu, kegiatan tersebut juga menghidupkan aktivitas melukis on the spot yang biasa dilakukan maestro lukis, Affandi. Kegiatan demikian sudah amat jarang dilakoni seniman lukis.
 
Menurut Godod, pelukis kebanyakan memilih berkarya di ruang privasi. Entah di studio atau di lingkungan yang terbatas. Godod menilai aktivitas melukis yang dilakukan serempak itu bisa jadi pengalaman, khususnya pelukis muda. Bukan semata pengalaman melukisnya, namun juga bersua dengan ratusan pelukis dan pengetahuan karya dari seniman lukis lain.
 
"Pelukis bisa saling diskusi dan menyapa lewat karya. Bisa mengetahui perkembangan seni di setiap daerah," katanya.
 
Seorang pelukis bernama, T. Kamajaya mengaku terkesan dengan konsep melukis on the spot. Melukis di ruang terbuka, di bawah terik matahari, dan berada di antara lalu lalang aktivitas manusia, menjadi pengalaman baru baginya.
 
Pelukis berusia 70 tahun ini belum biasa melukis di antara manusia yang melintas di belakang dan di depannya. Meski tak fokus, ia tak ingin menyebutnya sebagai kendala.
 
Tantangan penting yang berupa ia takhlukkan yakni mental. Ia tak menampik sempat merasa canggung dan grogi melukis di depan publik.
 
"Tapi kalau sudah terbiasa ya mengalir saja. Bagus untuk melatih mental para pelukis," ucapnya.
 
Pada saat itu, Kamajaya melukis lampu di tepi jalan yang jadi salah satu ikon di Yogyakarta. Ia mengatakan obyek itu dipilih sebagai wajah sekaligus wujud eksistensi Yogyakarta.

 

(ALB)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif