Ilustrasi--Peternak memanen telur dari peternakan ayam miliknya di Malang, Jawa Timur. (Foto: ANTARA/Ari Bowo Sucipto)
Ilustrasi--Peternak memanen telur dari peternakan ayam miliknya di Malang, Jawa Timur. (Foto: ANTARA/Ari Bowo Sucipto)

Peternak Ayam Petelur di Natar Lampung Selatan Terancam Bangkrut

Nasional Peternakan Harga Ayam Bantuan Pangan Nontunai pandemi covid-19 harga telur
Lampost • 15 September 2021 08:21
Kalianda: Harga telur ayam di pasaran terus menurun. Sentral peternak ayam petelur di Desa Krawangsari, Kecamatan Natar, Kabupaten Lampung Selatan, Lampung, meyakini jika harga jual telur tidak kunjung stabil peternak terancam gulung tikar.
 
"Tidak akan ketemu, harga telur terlalu murah. Sementara pakan naik tinggi, kalau seperti ini terus saya yakin satu bulan ke depan telur akan langka, karena tidak ada lagi ternak ayam telur yang bertahan," kata peternak ayam petelur, Kasmani, Selasa, 14 September 2021.
 
Menurutnya dalam satu hari jika dirata-ratakan rugi mencapai Rp8 juta dengan harga telur Rp17 ribu saat ini, karena ada pengurangan harga Rp4.000 dari sebelumnya Rp21 ribu.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Satu kilonya saya rugi Rp4.000, kalikan saja 2 ton per hari otomatis saya rugi Rp8 juta sehari," katanya.
 
Baca juga: Purwakarta PPKM Level 4, Bupati Sebut Akibat Data tak Sinkron
 
Ia menambahkan, jika pemerintah tidak cepat tanggap menyelesaikan persoalan ini dapat dipastikan satu bulan ke depan tidak akan ada lagi peternak ayam petelur. Jika pun ada sangat sedikit dan itu tidak akan memenuhi kebutuhan pasar.
 
Untuk mempertahankan usahanya, lanjut Kasmani, ia terpaksa menjual sebagian ayam karena itu jalan satu-satunya untuk bertahan.
 
"Saya jual ayam yang setengah produksi untuk menyelamatkan ayam yang masih muda kalau tidak kami tidak bisa ngasih ayam ini makan," ungkapnya.
 
Pihaknya menilai, anjloknya harga telur ayam bukan karena panen bersamaan, namun karena daya beli masyarakat menurun, selain itu ada sistem yang diubah dalam pemberi Bantuan Pangan Nontunai Tunai (BPNT) oleh pemerintah belakangan ini.
 
Baca juga: Populer Daerah, Kawanan Burung Mati di Cirebon Hingga KKB KKB Kembali Bakar Fasilitas Umum
 
"Kalau panen selama ini selalu berbarengan tidak ada pengaruhnya, yang menyebabkan harga turun bukan itu, tetapi daya beli masyarakat rendah, terus dulu ada bantuan BPNT setiap bulan kami peternak memenuhi kebutuhan telur mereka setiap bulan, tetapi sekarang diubah BPNT tiga bulan sekali cairnya jadi kami kesulitan menjual," ungkapnya.
 
Ia berharap pemerintah segera mengambil kebijakan dengan menstabilkan harga kembali, jika tidak semua akan dirugikan dengan tidak adanya telur di pasaran. Peternak tidak akan sanggup bertahan jika harga terus menurun.
 
"Kembalikan peraturan pemberi  BPNT seperti dulu (setiap bulan) karena mereka dapat membeli dengan jumlah besar setiap bulannya. Kalau dulu alhamdulillah rutin ada kontrak dengan pihak BPNT nah sekarang tiga bulan sekali baru ada permintaan," ungkapnya.
 
(MEL)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif