Ilustrasi - Medcom.id.
Ilustrasi - Medcom.id.

Cerita Mantri Patra yang Bertugas di Pedalaman Hingga Meninggal

Nasional obituari
26 Juni 2019 12:19
Wasior: Mantri Patra Marinna Jauhari, 31, meninggal, di desa terpencil tempatnya bertugas, di Kampung Oya, Distrik Naikere, Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat, Selasa, 18 Juni 2019. Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) menyampaikan duka cita atas meninggalnya Patra.
 
"PPNI menyampaikan penghargaan dan apresiasi yang tinggi kepada Patra Marinna atas pengabdiannya dalam pelayanan kesehatan bagi masyarakat pedalaman di Papua Barat," kata Ketua Umum DPP PPNI, Harif Fadhillah, dikutip dari Antara, Rabu, 26 Juni 2019.
 
Patra Marinna berstatus pegawai negeri sipil (PNS) di Pemerintah Kabupaten Teluk Wondama sejak 2009. Patra Marina mendapat tugas mengikuti program pemerintah daerah setempat, yakni pelayanan kesehatan di desa terpencil pada 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Harif mengungkap, Patra meninggal karena sakit di tempatnya bertugas. Menurut informasi yang dihimpun PPNI, Patra tinggal sendiri sebagai tenaga kesehatan dengan keterbatasan logistik dan obat-obatan, serta tidak ada transportasi dan alat komunikasi.
 
"Kampung Oya hanya dapat ditempuh dengan berjalan kaki selama empat hari atau jika menggunakan helikopter biaya sewanya cukup mahal, sekitar Rp5 juta per jam," bebernya.
 
Informasi meninggalnya Patra, diterima Pemerintah Kabupaten Teluk Wondama pada Jumat, 21 Juni 2019, siang. Namun Patra dinyatakan sudah meninggal sejak Selasa, 18 Juni 2019.
 
"Karena sulitnya transportasi dan komunikasi dari tempat tugas, jenazah baru bisa dibawa ke kabupaten induk pada 22 Juni 2019," jelasny Harif.
 
Dia menyesalkan, jenazah Patra baru dievakuasi setelah empat hari dinyatakan meninggal. Patra, kata Harif, sudah selesi bertugas di desa terpencil itu dan akan dijemput menggunakan helikopter.
 
"Namun, sampai berhari-hari hingga kondisinya sakit, belum dijemput oleh pemerintah daerah setempat," ucap Harif menyesalkan.
 
Melansir Antara, Patra sudah empat bulan lebih melayani warga Kampung Oya, Distrik Naikere, Teluk Wondama. Dia memilih setia dalam tugas, saat rekannya pergi dan tidak kembali.
 
Dalam kesendirian, Patra memilih tetap melayani hingga ajal menjemput. Patra bertugas di Kampung Oya sejak Februari 2019. Dia salah satu dari sekian tenaga kesehatan yang ditunjuk untuk memberikan pelayanan di daerah pedalaman.
 
Kampung Oya merupakan salah satu kampung di pedalaman Distrik Naikere yang terpencil dan terisolasi. Tidak ada akses jalan darat, apalagi sarana telekomunikasi.
 
Wilayah di perbatasan antara Teluk Wondama dengan Kabupaten Kaimana, hanya bisa dijangkau dengan berjalan kaki atau menggunakan helikopter. Untuk mencapai pusat distrik di Naikere, warga setempat biasanya berjalan kaki selama tiga sampai empat hari.
 
Jalanan yang dilewati masih berupa jalan setapak menyusuri gunung dan lembah di tengah hutan belantara.
 
Pada awal Februari lalu, Mantri Patra bersama seorang rekannya diantar menggunakan helikopter ke Kampung Oya. Mereka dijadwalkan bertugas selama tiga bulan, mulai Februari dan dijemput pada Mei dengan diganti petugas selanjutnya.
 
Namun, hingga akhir Mei 2019 tak ada helikopter yang datang menjemput sedangkan persediaan makanan untuk tiga bulan telah habis. Demikian dengan stok obat-obatan, yang habis dipakai.
 
Patra memilih tetap tinggal melayani masyarakat Kampung Oya. Sedangkan temannya sesama perawat memutuskan turun ke Kota Wasior, dengan berjalan kaki.
 
Kepala Puskesmas Naikere Tomas Waropen menuturkan, Patra selalu berinteraksi dengan warga setempat untuk mengisi hari-harinya di Kampung Oya. Patra tetap memberikan pelayanan medis, dengan kondisi seadanya.
 
Hari terus berlalu, helikopter yang harusnya menjemput tak kunjung datang. Patra memilih setia melayani hingga akhirnya sakit.
 
Tomas mengungkap, kondisi Patra yang memburuk membuat seorang warga Kampung Oya memutuskan berjalan kaki, kemberitahu kondisi sang mantri ke pihak Puskemas Naikere. Namun, tetap saja tidak ada helikopter yang datang untuk mengevakuasi Patra untuk mendapat perawatan medis.
 
Hingga pada 18 Juni 2019, Patra mengembuskan nafas terakhir di Kampung Oya. Patra meninggal dalam kesendirian, tanpa keluarga dan kerabat.
 
Jenazah Patra baru dievakuasi empat hari setelah meninggal, pada 22 Juni 2019, menggunakan helikopter yang disewa Pemda dari Nabire.Tomas menyebut nyawa Patra harusnya bisa tertolong jika dinas kesehatan cepat merespons laporannya.
 
"Kami sudah rapat sampai tiga kali dengan Dinas Kesehatan, Kesra dan Sekda tapi tidak ada jalan. Sampai akhimya dia meninggal, baru helikopter bisa naik," ujar Tomas.
 
Tomas menyebut Patra pahlawan kemanusian karena rela mendedikasikan hidupnya untuk kebaikan masyarkat pedalaman tanpa mengeluh dan menuntut.
 
"Patra adalah pahlawan bagi masyarakat di pedalaman Mairasi (nama suku di pedalaman Naikere)," tegasnya.
 

(LDS)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif