Distribusi air bersih kepada warga terdampak kekeringan di Jepara, Jawa Tengah. (Foto: Medcom.id/Rhobi Sani)
Distribusi air bersih kepada warga terdampak kekeringan di Jepara, Jawa Tengah. (Foto: Medcom.id/Rhobi Sani)

Solusi Penanganan Krisis Air Bersih Diminta Lebih Riil

Nasional kemarau dan kekeringan
Rhobi Shani • 25 Oktober 2019 13:05
Jepara: Jumlah desa terdampak musim kemarau di Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, terus bertambah. Hingga kini, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) sudah melakukan penyaluran air bersih ke 25 desa dengan total warga yang mengalami krisis air bersih mencapai 23 ribu jiwa.
 
Palang Merah Indonesia (PMI) bersama Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Jepara pun meminta krisis air bersih di sejumlah wilayah Jawa Tengah ditangani secara nyata. Bantuan air bersih saja tak menyelesaikan masalah.
 
“Ini masalah yang setiap tahun terjadi di Jepara, namun belum ada solusi permanen. Apa yang kami lakukan hari ini bersama PMI membantu meringankan beban warga hanya bersifat sementara,” ujar Ketua PWI Kabupaten Jepara, Budi Santoso, Kaliombon, Jumat, 25 Oktober 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


PMI dan PWI, kata Budi, ikut membantu menyalurkan bantuan air bersih ke Desa Kaliombo Kecamatan Pecangaan dan Desa Kedung Malang Kecamatan Kedung. Ia meyakini jumlah desa yang kekurangan air jauh lebih besar ketimbang data yang dimiliki saat ini.
 
“Hari ini ada empat tangki air bersih yang disalurkan untuk warga juga untuk musala guna keperluan wudu,” kata dia.
 
Budi melanjutkan, ke depan, pihaknya akan mengajak sejumlah elemen masyarakat lain untuk membantu menyediakan bantuan air bersih.
 
“Karena ternyata air PDAM yang dimiliki warga, juga tidak mengalir. Tadi saya mengecek sendiri di sejumlah rumah, semuanya mati tidak mengeluarkan air,” ungkap Budi.
 
Ketua RW 1 Desa Kaliombo, Tarman, mengatakan, sejak lima bulan terakhir air PDAM tidak lagi mengalir. Pihaknya sudah berulang kali meminta PDAM untuk melakukan pengiriman air bersih bagi pelanggan. Namun, permintaan itu tak kunjung dipenuhi.
 
“Tapi setiap bulan kami masih harus tetap membayar rekening air PDAM, padahal airnya tidak keluar. Janjinya PDAM mau ngirim air,” kata Tarman.
 
Jika tidak ada pasokan air bersih, Tarman beserta warga lainnya mendapatkan air bersih dengan cari membeli ke desa lain. Sehingga, biaya yang dikeluarkan cukup tinggi.
 
“Sebulan bisa sampai Rp1 juta lebih hanya untuk membeli air,” imbuhnya.
 

(MEL)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif