Wakil Rektor IV Universitas Brawijaya (UB), Sasmito Djati di Malang, Jawa Timur, Kamis, 12 September 2019. Medcom.id/ Daviq Umar Al Faruq
Wakil Rektor IV Universitas Brawijaya (UB), Sasmito Djati di Malang, Jawa Timur, Kamis, 12 September 2019. Medcom.id/ Daviq Umar Al Faruq

Universitas Brawijaya Kehilangan Sosok Habibie

Nasional bj habibie
Daviq Umar Al Faruq • 12 September 2019 17:56
Malang: Wakil Rektor IV Universitas Brawijaya (UB), Sasmito Djati menyatakan kampusnya kehilangan besar sosok Baharuddin Jusuf (BJ) Habibie yang wafat pada Rabu, 11 September 2019 kemarin.
 
"Kami termasuk orang yang paling sedih ketika Pak Habibie meninggal. Jujur saja kami kehilangan. Doa kami untuk beliau semoga amal ibadahnya diterima Allah SWT," kata Sasmito di Malang, Jawa Timur, Kamis, 12 September 2019.
 
Sasmito menjelaskan Habibie adalah ketua pertama Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI). Sedangkan awal mula ICMI terbentuk bermula dari sebuah diskusi kecil para mahasiswa UB di masjid kampus.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Inisiasi ICMI sebetulnya murni dari mahasiswa. Kemudian Pak Habibie secara mengejutkan ternyata beliau berkenan (menjadi ketua ICMI). Beliau juga meminta izin ke Presiden Soeharto dan Pak Harto support, akhirnya lahirlah ICMI di Kota Malang. Itu buat kami sebagai warga UB merupakan peristiwa besar yang bisa diberi peran kepada bangsa ini," jelas Sasmito.
 
Pembentukan ICMI terjadi pada 7 Desember 1990 dalam sebuah pertemuan kaum cendekiawan muslim di Kota Malang pada 6-8 Desember 1990 silam dihadiri langsung oleh Habibie. Saat itu Habibie masih menjabat sebagai Menteri Riset dan Teknologi (Menristek).
 
"Pak Habibie datang secara khusus dan terpilih menjadi ketua. Pak Habibie adalah icon teknokrat di Indonesia. Yang pada saat itu umat Islam sangat lemah. Kebanyakan santri dianggap orang kampung, orang pinggiran. Tapi pada waktu itu Pak Habibie justru menjadi inisiasi," beber Sasmito.
 
Sasmito menjelaskan ICMI merupakan sejarah perjuangan umat Islam saat itu. Dengan dipimpin Habibie yang merupakan tokoh reformasi, Indonesia digiring ke arah demokratis.
 
"Cara berpikir beliau (Habibie) itu seperti orang barat, dan dia seorang muslim. Itu yang menjadi sebuah sintesis yang bagus dari diri Pak Habibie. Yang akhirnya Pak Habibie menjadi icon umat Islam. Bahwa Islam itu tidak bisa ekslusif," pungkas Sasmito.
 

(DEN)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif