Kalapas Kelas II Maros, Indra Setia Budi, di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, Rabu 9 Oktober 2019.
Kalapas Kelas II Maros, Indra Setia Budi, di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, Rabu 9 Oktober 2019.

Polisi Dikeroyok Napi Lapas Maros

Nasional kekerasan
Muhammad Syawaluddin • 09 Oktober 2019 20:27
Makassar: Tiga personel kepolisian dikeroyok oleh warga binaan di Lapas Kelas II Maros, Sulawesi Selatan. Ketiganya mendapatkan kekerasan dengan lemparan batu dan pengeroyokan oleh warga binaan di Lapas.
 
"Iya memang benar ada seperti itu (pengeroyokan terhadap polisi di Lapas Kelas II Maros)," kata Kabid Humas Polda Sulawesi Selatan, Kombes Pol Dicky Sondani, di Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu 9 Oktober 2019.
 
Dicky belum bisa menjelaskan secara gamblang penyebab terjadinya penyerangan terhadap tiga personel yang diketahui bertugas di Polres Majene tersebut. Kasus, kata Dicky ditangani di Polres Maros.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sementara itu Kalapas Kelas II Maros, Indra Setia Budi, membenarkan adanya pelemparan batu oleh warga binaan tersebut. Dia mengatakan bahwa peristiwa itu berawal saat salah satu personel kepolisian yang melakukan pengembangan kasus dan mengeluarkan tembakan dalam Lapas Kelas II Maros, Sulawesi Selatan.
 
"Ini awalnya miskomunikasi, andai salah satu anggota reskrim tidak membuang tembakan mungkin hal ini tidak terjadi, karena sebelumnya penggeledahan yang kita izinkan dengan pengawalan itu biasa berlangsung aman," katanya.
 
Tapi, karena ada tembakan yang dilepaskan oleh salah satu personel kepolisian dari Polres Majene tersebut memicu warga binaan di Lapas Kelas II Maros, Sulawesi Selatan akhirnya melempari tiga personel tersebut dengan batu yang ada di dalam Lapas.
 
"Tanpa kita duga beliau (polisi) membuang tembakan dua kali, karena bunyi tembakan itulah yang memicu warga binaan untuk melakukan pelemparan karena mereka kaget," jelasnya.
 
Dari informasi yang diperoleh akibat keributan tersebut tiga polisi mengalami luka-luka, dan sudah dirawat di rumah sakit. Tapi itu, lantaran saat lemparan batu polisi tidak mengetahui medan, akhirnya ada yang jatuh sehingga mengalami luka.
 
Terkait, senjata api yang masuk ke dalam lapas, Indra menjelaskan bahwa saat kejadian polisi yang menjabat sebagai Kasat Reskrim Polres Majene, yakni AKP Pandu Arief Setiawan, tidak masuk ke dalam area maksimum security sehingga senpi tidak diamankan oleh petugas Lapas.
 
Dua personel kepolisian yang masuk untuk melakukan pengembangan kasus sudah menitipkan senpi milik mereka. Yang tersisa hanya Kasat Reskrim Polres Majene karena tidak ikut masuk dalam arena maksimum security untuk pengembangan kasus.
 
"Menurut laporan anggota Pak Kasat menerobos masuk, beliau membawa senjata, tanpa ada basa basi kemudian spontan menembak, kalau kita lihat dan diperiksa mungkin kita tegur untuk tidak bawa masuk senpi ke dalam tapi ini spontan masuk," jelasnya.
 
Menurut, Indra dari informasi yang dia peroleh, Kasatres melepaskan tembakan lantaran mendengar teriakan yang dilakukan oleh para warga binaan. Hal itulah yang memicu kasatreskrim Polres Majene melepaskan senjata di dalam Lapas.
 
"Ketika beliau mendengar ada teriakan-teriakan beliau menerobos masuk dan kita tidak sempat lagi menggeledah, apalagi saat itu petugas sudah pada pulang, itu hari Minggu, yang jaga hanya dua orang, jadi kaget juga ada yang menerobos masuk," jelasnya.
 

 

(ALB)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif