'Dosa' Pemerintah dalam PPDB Versi Konsultan IT
Operator membantu para orangtua pendaftar PPDB mereset data siswa, di SMPN 11 Tangerang Selatan, Banten. Medcom.id/Farhan Dwitama
Tangerang: Sejumlah persoalan pada sistem dan jaringan selama penerimaan peserta didik baru (PPDB) melalui laman situs ppdb.dindikbudtangsel.com. Pengembang laman situs membeberkan sumber permasalahan PPDB dalam jaringan (online) di Tangsel yang telah terjadi sejak hari pertama.

Managing Director Hamura Digital selaku Developer website, Laksono Hadi Siswanto membeberkan permasalahan yang dia temui di lapangan.

"Satu kalau saya bilang dari Pemerintahnya sendiri tidak memberi edukasi lebih jauh kepada masyarakat," kata dia ditemui di SMPN 11 Kota Tangsel, Kamis, 12 Juli 2018.


Edukasi PPDB online bisa melalui video tutorial cara pengisian. Jika edukasi dan sosialiasi diberikan jauh hari, dia yakin PPDB online di Tangsel tidak akan tidak akan seperti saat ini.

Masalah orangtua calon pendaftar yang sering ditemukan karena mereka tidak paham pengisian data calon peserta. Sehingga, berkali-kali gagal mendaftar.

"Contoh saja pada pengisian nomor USBN, yang benar itu, 04-017, tapi oleh pendaftar ditulis 04017, sudah tidak akan muncul. Ini masalah karena ketidakmengertian pendaftar," ucapnya.

Selain persoalan di sisi pendaftar, permasalahan lain sehingga mengalami kendala infrastruktur peladen (server) yang kurang memadai.

Peladen yang dihadirkan untuk PPDB online saat ini memiliki kapasitas memori RAM (random access memory) yang rendah, sehingga kerap bermasalah saat banyak calon pendaftar mencoba masuk.

"Server bukan di kami, kami hanya pengembang website. Memang benar kapasitas harddisk (penyimpan data) besar sampai 4 tera, tapi enggak memerhatikan memori RAM-nya yang kecil. Jadinya eror seperti kemarin sebelum dilakukan maintenance,” bilang dia.

Dia pun mengakui kesalahan teknis yang dilakukan pihaknya sehingga membuat sistem yang dibuat tak bekerja optimal. Hal itu telah diperbaiki.

"Kami salah juga di crawling data (sistem pengumpulan data) siswa," kata dia.

Masalah crawling data membuat satu nama calon pendaftar masuk di semua pilihan sekolah. Seharusnya, sistem otomatis menggeser nama bila calon siswa tereliminasi dari sekolah pilihannya yang diposisikan lebih prioritas.

"Itu sudah diperbaiki dan berjalan normal. Kami meminta maaf," kata dia.



(SUR)